Penemuan Jas Hujan, dari Jerami hingga Bahan Plastik

  • 23 Jan 2025 10:26 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung : Pada musim hujan seperti saat ini, salah satu benda yang paling diburu adalah jas hujan. Jenis pakaian pelindung hujan ini makin populer di Indonesia karena dimanfaatkan oleh pengendara motor untuk menjaga tetap kering. Jas hujan yang kita kenal kini dirancang secara khuus untuk menjaga pemakainya tetap kering. Kain yang digunakan dibuat agar tidak bisa menyerap air. Namun, tahukah Anda, jas hujan atau mantel mulanya jauh dari teknologi semacam ini. Mulanya, jas hujan dibuat dengan sangat sederhana untuk melindungi diri dari hujan.

Salah satu jas hujan paling awal dirancang di China Kuno. Pakaian pelindung hujan ini terdokumentasikan dalam sejarah China melalui puisi yang ditulis sekitar tahun 1000 masehi. Bentuk awalnya adalah jubah yang terbuat dari jerami atau rumput. Para petani China zaman dulu mengenakan jubah ini agar tetap bisa bekerja di ladang atau sawah saat musim hujan.

Lalu, tercetuslah terobosan baru dalam pembuatan jas hujan kemudian diciptakan oleh Charles Macintosh, ahli kimia Skotlandia pada tahun 1823. Dia membuat metode baru dengan karet untuk membuat pakaian tahan air.

Pencetus jas hujan adalah Charles Macintosh pada 1823. Macintosh adalah ahli kimia asal Skotlandia. Awalnya, Charles mencoba membuat kain tahan air untuk digunakan sebagai terpal.

Charles menggambarkan bahan tersebut sebagai “kain karet India”, di mana tekstur kain lain seperti wol, kapas, sutra, kulit dan zat lain dapat dibuat tahan terhadap air dan udara. Ia juga memperingatkan penjahit bahwa mantel yang dijahit dari bahan lain akan bocor karena adanya lupang jarum. Tetapi, “kain karet India” itu tidak.

Charles Macintosh pun lantas memilih untuk membuka toko jas hujannya sendiri untuk melindungi reputasinya.Dia akhirnya membuat sebuah produk berupa mantel kain karet berlapis tartan dengan jahitan yang tertutup rapat dan kemudian disebut dengan nama jas hujan.

Di tengah perjalanan, jas hujan mengalam persoalan. Lantaran, suhu selalu naik saat hujan dan kain karet tidak bisa keropos, jas hujan besutan Charles Macintosh cenderung membuat tubuh berkeringat saat dipakai. Maka, George Spill menemukan solusi untuk memasukan lubang dan tali logam di bawah ketiak. Dengan inovasi itu, lubang tali terus digunakan di banyak jas hujan hingga saat ini.

Selama Perang Dunia I desainer asal Inggris, Thomas Burberry merancang mantel tahan cuaca bagi perwira yang terbuat dari gabardin kapas yang dipilin halus. Mantel itu bernama “Trench Coat”, yang walau tidak sepenuhnya tahan air namun tahan secara efektif di berbagai kondisi cuaca dan mudah untuk bergerak.

Sekitar abad ke-20, terjadi ledakan penggunaan bahan-bahan sintetis seperti plastik dan nilon. Setelah Perang Dunia II, jas hujan plastik dan nilon menjadi tenar. Bahan ini dengan cepat disukai banyak orang karena mudah didesain, harga terjangkau, lebih mudah dibuat, dan benar-benar anti-air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....