Sejarah Kaca Pembesar, Lebih Dari Sekedar Membuka Jendela Mikro

  • 29 Nov 2024 21:10 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung : Sebelum kaca pembesar ditemukan, orang zaman dahulu menggunakan batu kristal atau kaca pembesar sederhana untuk membantu penglihatan mereka.

Roger Bacon, seorang biarawan Fransiskan dan sarjana Universitas Oxford, diyakini sebagai penemu kaca pembesar pada tahun 1268. Bacon menciptakan kaca pembesar untuk membantu rekan-rekannya yang berusia tua dan mengalami gangguan penglihatan jarak jauh.

Lup atau kaca pembesar merupakan alat optik yang terdiri dari sebuah lensa cembung yang digunakan untuk memperbesar sudut penglihatan.

Fungsi Lup atau kaca pembesar umumnya digunakan untuk membaca atau melihat tulisan-tulisan kecil, atau digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketelitian misalnya : tukang reparasi jam atau handphone, seorang filateli (seorang yang mengumpulkan perangko), seorang dokter dalam mengamati sel-sel darah, mahasiswa biologi dalam mengamati bagian-bagian tubuh hewan dll. Bahkan lup juga merupakan bagian alat colony counter yang digunakan untuk analisa perhitungan koloni pada laboratorium mikrobiologi.

Saat ini lup sudah modern, lup yang masih konvensional biasanya digunakan oleh pelajar dalam dunia pendidikan atau bisa juga untuk tahap pembuktian dan percobaan.

Saat ini sudah banyak kita temukan lup yang dipakai khusus untuk usaha servis seperti reparasi baik itu reparasi jam, reparasi alat-alat elektronik yang membutuhkan lup ganda dan juga sudah disertai dengan lampu LED.

Bagaimana Kaca Pembesar Membuat Benda Terlihat Lebih Besar?

Lup membuat benda terlihat lebih besar karena lensa cembung membelokkan atau membiaskan sinar cahaya. Kemudian akan berkumpul atau menyatu dalam satu titik.

Sebenarnya, saat cahaya melewati lensa, sinar cahaya tadi berbentuk pararel atau bergerak ke arah yang sama dan terpisah jarak pada setiap titik tertentu. Namun, saat melewati lensa cembung, sinar cahaya pararel tadi menjadi terkumpul pada satu titik yang sama.

Sinar cahaya dari objek yang masuk secara pararel melalui lensa cembung ini akan dibiaskan sehingga sinar pararel tadi akan bertemu dan membuat gambar virtual pada retina mata kita.

Gambar virtual inilah yang menjadi terlihat lebih besar karena adanya dasar geometri sederhana, yaitu mata kita menelusuri cahaya kembali dalam garis lurus ke gambar virtual.

Perubahan kecepatan cahaya ini menyebabkan cahaya akan membengkok. Pembengkokan cahaya ini menyebabkan distorsi atau gangguan pada gambar yang terbentuk.

Nah, jumlah distorsi pada gambar tergantung pada jarak lensa dengan objek yang teman-teman amati menggunakan kaca pembesar. Perubahan ukuran objek akan terlihat jelas jika jarak antara kaca pembesar dengan objek berada pada jarak yang tepat. Kalau objek dengan kaca pembesar terlalu dekat atau bahkan menempel, perubahan ukuran tidak akan terlihat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....