Komunitas Anak Sawah Bawa Budaya Lampung ke Tiga Festival Nasional

  • 15 Sep 2026 19:59 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO,ID,Bandar Lampung— Komunitas Anak Sawah, kelompok seni asal Lampung, kembali membawa nama daerah ke panggung nasional. Pada akhir Agustus hingga September 2026, komunitas ini tampil dalam tiga festival kebudayaan di Pulau Jawa, yakni Bisik Serayu Festival di Banyumas, Festival Payung Indonesia XIII di Surakarta, dan Asia Tri Project dalam rangkaian Asia Tri Jogja 2026 di Yogyakarta.

Menariknya, seluruh rangkaian perjalanan dan pementasan tersebut dilakukan secara mandiri tanpa dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah.

Koreografer sekaligus inisiator Komunitas Anak Sawah, Agus Gunawan, mengatakan keikutsertaan dalam berbagai festival tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi komunitas untuk berkesenian, tetapi juga menjadi kesempatan memperkenalkan budaya Lampung kepada masyarakat dari berbagai daerah.

“Semua kami lakukan dengan biaya mandiri. Tidak ada bantuan dari pemerintah daerah. Padahal ketika kami tampil, yang kami bawa bukan hanya nama komunitas, tetapi juga nama Lampung. Kami sekaligus mempromosikan daerah, pariwisata, dan budaya Lampung,” ungkap Agus.

Menurutnya, setiap undangan festival menjadi kesempatan penting untuk memperluas jejaring sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisi Lampung. Namun, keterbatasan dukungan pembiayaan membuat komunitas harus menanggung sendiri kebutuhan transportasi, akomodasi, produksi, hingga kebutuhan selama mengikuti festival.

Pada 29–30 Agustus 2026, Komunitas Anak Sawah tampil di Rianto Dance Studio, Banyumas, dalam Bisik Serayu Festival. Festival tersebut menjadikan lanskap Sungai Serayu sebagai salah satu konteks perjumpaan dan pertukaran seni.

Selanjutnya, di Surakarta, komunitas ini tampil dalam Festival Payung Indonesia XIII yang berlangsung di Taman Balekambang. Salah satu karya yang dibawakan adalah Tari Bedana Payung, sebuah kreasi yang mengembangkan gerak tradisional Bedana dengan payung sebagai elemen artistik utama.

Payung dalam karya tersebut menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan, sekaligus memberikan identitas visual yang kuat terhadap pertunjukan.

Sementara di Yogyakarta, Komunitas Anak Sawah menghadirkan karya Cikau Sugeh di Omah Petroek, Pakem, dalam rangkaian Asia Tri Project pada Asia Tri Jogja 2026. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara seni tradisi dan ekspresi kontemporer dari berbagai latar budaya.

Bagi Komunitas Anak Sawah, keikutsertaan dalam tiga festival tersebut bukan semata-mata tentang tampil di atas panggung. Festival juga menjadi ruang belajar, pertukaran pengalaman, sekaligus membangun jejaring dengan para seniman dan komunitas dari berbagai daerah.

Agus menilai, keterlibatan komunitas seni daerah dalam festival nasional semestinya dapat menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya dan potensi daerah.

“Ketika kami tampil di luar Lampung, masyarakat mengenal bahwa ada budaya dan karya seni dari Lampung yang terus berkembang,” katanya.

Kondisi tersebut sekaligus membuka kembali diskusi mengenai pola dukungan pemerintah terhadap komunitas seni, khususnya kelompok seni yang secara aktif membawa nama daerah ke forum nasional.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menempatkan pemerintah sebagai salah satu pihak yang memiliki peran dalam upaya pemajuan kebudayaan. Dalam praktiknya, komunitas seni di tingkat akar rumput masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan akses terhadap dukungan pembiayaan dan fasilitasi kegiatan.

Keikutsertaan Komunitas Anak Sawah dalam tiga festival nasional menunjukkan bahwa komunitas seni daerah dapat menjadi salah satu ujung tombak pengenalan budaya Lampung di tingkat nasional. Namun, keberlanjutan kiprah tersebut membutuhkan ekosistem pendukung yang memungkinkan komunitas terus berkarya tanpa harus selalu menanggung seluruh biaya secara mandiri.

Dukungan dapat dilakukan melalui berbagai skema, seperti hibah kompetitif, fasilitasi perjalanan, dukungan produksi, maupun bentuk apresiasi lainnya yang sesuai dengan ketentuan.

Hingga berita ini ditulis, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung belum memberikan tanggapan resmi terkait dukungan terhadap keikutsertaan Komunitas Anak Sawah dalam sejumlah festival nasional tersebut.

Bagi para pelaku seni, panggung nasional bukan sekadar tempat mempertunjukkan karya. Di setiap penampilan, mereka juga membawa identitas daerah—memperkenalkan Lampung melalui seni, tradisi, kreativitas, dan kerja komunitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....