Gebug Ende, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di tengah Modernisasi

  • 08 Agt 2026 14:08 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Suara benturan rotan dan perisai menjadi ciri khas Tradisi Gebug Ende yang masih dilestarikan masyarakat Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali. Tradisi turun-temurun ini tidak sekadar menjadi permainan rakyat, tetapi juga memiliki makna spiritual bagi masyarakat setempat.

Mengutip laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem, Gebug Ende merupakan tradisi khas masyarakat Seraya yang biasanya dilaksanakan pada musim kemarau. Tradisi ini berkaitan dengan harapan masyarakat agar hujan turun dan kebutuhan air untuk kehidupan dapat terpenuhi.

Dalam pelaksanaannya, dua pemain saling berhadapan menggunakan rotan sebagai alat pukul dan ende sebagai perisai. Meski terlihat seperti pertarungan, permainan memiliki aturan, salah satunya pemain tidak diperbolehkan memukul bagian tubuh di bawah pinggang.

Pemerintah Kabupaten Karangasem menyebut Gebug Ende juga menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan agar diberikan hujan. Pelaksanaannya turut diiringi Tabuh Bebondongan dengan instrumen tradisional Bali, seperti kendang, reong, ceng-ceng dan suling.

Keberadaan Gebug Ende mendapat pengakuan sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional. Berdasarkan daftar Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Gebug Ende ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2016 untuk Provinsi Bali.

Di tengah modernisasi, masyarakat Seraya terus mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya. Regenerasi menjadi penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Gebug Ende sebagai permainan adu rotan, tetapi juga memahami nilai kebersamaan, spiritualitas, dan hubungan masyarakat dengan alam.

Gebug Ende pun terus hidup sebagai warisan leluhur yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Seraya hingga kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....