Cara Membuat Kompos Rumahan dari Sisa Dapur untuk Menyuburkan Tanaman

  • 28 Mar 2026 22:18 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID., Bandarlampung: Memanfaatkan sisa dapur menjadi kompos adalah langkah sederhana namun berdampak besar bagi lingkungan dan kesuburan tanaman. Selain mengurangi limbah rumah tangga, kompos juga menjadi pupuk organik alami yang kaya nutrisi. Berikut panduan lengkap membuat kompos rumahan dengan mudah.

1. Mengenal Bahan Kompos

Sebelum memulai, penting untuk mengetahui jenis bahan yang bisa digunakan:

  • Bahan hijau (kaya nitrogen): sisa sayur, kulit buah, ampas kopi, teh celup
  • Bahan cokelat (kaya karbon): daun kering, kertas tanpa tinta, kardus, serbuk kayu

Perbandingan idealnya adalah 2 bagian bahan cokelat dan 1 bagian bahan hijau.

2. Siapkan Wadah Kompos

Gunakan wadah tertutup seperti ember, tong plastik, atau keranjang khusus kompos. Pastikan wadah memiliki lubang kecil untuk sirkulasi udara agar proses penguraian berjalan optimal.

3. Proses Penyusunan

  • Letakkan bahan cokelat di dasar sebagai lapisan awal
  • Tambahkan bahan hijau di atasnya
  • Ulangi secara berlapis
  • Pastikan kompos tetap lembap, tetapi tidak terlalu basah

4. Aduk Secara Berkala

Aduk kompos setiap 3–5 hari untuk mempercepat proses pembusukan dan mencegah bau tidak sedap. Proses ini membantu mikroorganisme bekerja lebih efektif.

5. Waktu Pematangan

Kompos biasanya siap digunakan dalam waktu 4–8 minggu, tergantung kondisi dan bahan. Tanda kompos matang:

  • Berwarna cokelat gelap
  • Tidak berbau menyengat
  • Teksturnya remah seperti tanah

6. Cara Menggunakan Kompos

Campurkan kompos ke dalam tanah dengan perbandingan 1:3 (kompos:tanah). Kompos akan meningkatkan kesuburan, memperbaiki struktur tanah, dan membantu tanaman tumbuh lebih sehat.

Tips Tambahan

  • Hindari memasukkan daging, minyak, atau makanan berlemak karena bisa menimbulkan bau dan hama
  • Potong kecil bahan agar lebih cepat terurai
  • Simpan kompos di tempat teduh

Dengan membuat kompos sendiri di rumah, Anda tidak hanya menghemat biaya pupuk, tetapi juga ikut berkontribusi menjaga lingkungan. Tanaman pun akan tumbuh lebih subur secara alami tanpa bahan kimia berbahaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....