Kenduri Literasi Metro 2026: Merawat Bahasa, Literasi Berdaya
- 30 Sep 2026 19:22 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga bahasa, budaya, serta membangun masyarakat yang mampu berpikir kritis dan berdaya. Semangat tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Kenduri Literasi Metro 2026 dengan tema “Merawat Bahasa, Literasi Berdaya.”
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi pegiat literasi, komunitas, pendidik, serta masyarakat untuk memperkuat gerakan literasi sekaligus mendorong kebiasaan membaca dan menulis di tengah masyarakat. Raditio Wahid, Ketua Saung Baca Ruang Pojok Nusantara, mengatakan bahwa gerakan literasi perlu hadir lebih dekat dengan masyarakat. Literasi, menurutnya, tidak harus selalu berlangsung dalam ruang formal, tetapi dapat tumbuh melalui aktivitas komunitas dan ruang-ruang interaksi masyarakat. “Literasi itu bukan hanya tentang membaca buku. Ada proses memahami, berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan kemudian mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Raditio
Menurut Raditio, keberadaan komunitas menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem literasi. Komunitas dapat menjadi ruang yang lebih terbuka bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk mengenal buku, bertukar gagasan, serta mengembangkan kreativitas.
Tema “Merawat Bahasa, Literasi Berdaya” juga dinilai relevan dengan perkembangan komunikasi di era digital. Penggunaan bahasa yang semakin beragam di media sosial membuat masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki kemampuan untuk memahami informasi sekaligus menggunakan bahasa secara bijak. Merawat bahasa bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Sebaliknya, bahasa dapat terus berkembang selama penggunaannya tetap memperhatikan konteks, makna, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Raditio menilai, gerakan literasi juga perlu diarahkan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kegiatan membaca dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi proses tersebut perlu dilanjutkan dengan diskusi, kreativitas, dan aksi.“Harapannya, kegiatan literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca. Setelah membaca, ada pengetahuan yang dibawa, ada gagasan yang muncul, dan ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk lingkungan,” katanya.
Kenduri Literasi Metro 2026 diharapkan dapat memperkuat jejaring antar-komunitas serta membuka ruang kolaborasi dalam mengembangkan kegiatan literasi di masyarakat. Kehadiran berbagai komunitas juga menunjukkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari berbagai latar belakang dan pendekatan. Bagi Raditio, membangun budaya literasi membutuhkan proses yang konsisten. Anak-anak dan generasi muda perlu diberikan ruang untuk berinteraksi dengan buku dan pengetahuan dengan cara yang menyenangkan, sekaligus didorong untuk berani menyampaikan pendapat.
“Kalau kita ingin literasi terus hidup, ruang-ruang seperti ini harus terus dirawat. Komunitas, masyarakat, dan berbagai pihak bisa saling mendukung agar budaya membaca dan berdiskusi menjadi kebiasaan,” ujar Raditio.
Melalui Kenduri Literasi Metro 2026, semangat merawat bahasa diharapkan berjalan beriringan dengan upaya membangun masyarakat yang literat, kreatif, dan berdaya. Literasi pun tidak berhenti sebagai aktivitas membaca, melainkan menjadi bagian dari proses masyarakat untuk belajar, memahami, dan berkontribusi bagi lingkungannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....