Kapan Anak Bisa Tidur Sendiri? Ini Waktu yang Tepat Memulai Sleep Training

  • 29 Sep 2026 19:53 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Waktu tidur bayi sering menjadi tantangan bagi orang tua. Tidak sedikit bayi yang terbiasa tertidur sambil digendong, disusui, atau ditimang. Ketika terbangun pada malam hari, bayi kemudian membutuhkan bantuan yang sama untuk kembali tidur.

Salah satu cara yang dapat diperkenalkan kepada bayi adalah sleep training, yaitu proses membantu anak membangun kebiasaan tidur yang sehat dan belajar menenangkan diri hingga dapat tertidur tanpa selalu bergantung pada bantuan orang tua.

Namun, sleep training bukan berarti membiarkan bayi menangis tanpa perhatian. Pendekatan dan kesiapan setiap anak berbeda sehingga orang tua perlu menyesuaikannya dengan usia, perkembangan, serta kebutuhan bayi.

Mulai Usia Berapa?

Tidak ada satu usia yang wajib untuk memulai sleep training. Namun, bayi umumnya mulai memiliki pola tidur yang lebih teratur ketika memasuki usia sekitar empat hingga enam bulan. Pada usia empat bulan ke atas, American Academy of Pediatrics atau AAP menyarankan orang tua dapat mulai membiasakan bayi diletakkan di tempat tidur ketika sudah mengantuk, tetapi belum benar-benar tertidur. Cara ini membantu bayi belajar tertidur secara mandiri.

Sementara itu, pada masa newborn, pola tidur masih sangat berbeda. Bayi baru lahir umumnya sering terbangun untuk menyusu sehingga orang tua tidak perlu terburu-buru menerapkan metode sleep training yang ketat.

Lembaga kesehatan Inggris, NHS, juga menekankan bahwa pola tidur setiap bayi berbeda. Bayi baru lahir memang cenderung sering terbangun pada malam hari karena kebutuhan menyusu, sedangkan seiring bertambahnya usia, periode tidur biasanya menjadi lebih panjang.

Bukan Berarti Bayi Harus Tidur Sepanjang Malam

Salah satu kesalahpahaman mengenai sleep training adalah anggapan bahwa anak yang berhasil menjalani sleep training harus tidur sepanjang malam tanpa terbangun.

Padahal, bayi tetap dapat terbangun di antara siklus tidur. AAP menyebut bayi usia sekitar enam bulan masih dapat terbangun pada malam hari dan kemudian kembali tidur setelah beberapa menit.

Karena itu, keberhasilan sleep training lebih berkaitan dengan kemampuan anak untuk kembali tidur secara mandiri, bukan semata-mata tidak terbangun sama sekali.

Apa Manfaat Anak Bisa Tidur Sendiri?

Ketika anak secara bertahap mampu menenangkan diri dan tertidur tanpa selalu membutuhkan bantuan orang tua, ia juga dapat lebih mudah kembali tidur ketika terbangun secara alami pada malam hari.

Kebiasaan tersebut dapat membantu membangun pola tidur yang lebih konsisten. Sejumlah panduan kesehatan anak juga merekomendasikan rutinitas tidur yang teratur dan memberi kesempatan kepada bayi untuk belajar tidur sendiri ketika sudah mengantuk.

Bagi orang tua, pola tidur anak yang lebih teratur juga dapat memberikan kesempatan untuk mendapatkan waktu istirahat yang lebih baik.

Namun, hasil sleep training tidak selalu sama pada setiap anak. Pertumbuhan, tumbuh gigi, sakit, rasa lapar, maupun kecemasan saat berpisah dari orang tua dapat membuat pola tidur berubah.

Mulai dari Rutinitas Sederhana

Sebelum menerapkan metode tertentu, orang tua dapat membangun rutinitas tidur yang konsisten.

Misalnya, memandikan anak, mengganti pakaian tidur, meredupkan lampu, membacakan buku, memberikan pelukan, kemudian menidurkan anak.

Rutinitas yang dilakukan dengan urutan serupa setiap malam dapat menjadi tanda bagi anak bahwa waktunya beristirahat.

NHS juga menyarankan rutinitas menenangkan sebelum tidur, seperti mandi, mengganti pakaian, membaca cerita, meredupkan lampu, dan memberikan pelukan atau ciuman sebelum anak tidur.

Letakkan Saat Mengantuk, Bukan Sudah Terlelap

Salah satu kebiasaan yang dapat diperkenalkan sejak bayi berusia sekitar empat bulan adalah meletakkan bayi di tempat tidurnya ketika sudah mengantuk tetapi masih terjaga.

Tujuannya agar bayi mengenali tempat tidur sebagai tempat untuk tertidur. Jika bayi selalu tertidur dalam pelukan kemudian dipindahkan ke tempat tidur, sebagian anak dapat mengalami kesulitan ketika terbangun dan mendapati kondisi sekitarnya berbeda.

Orang tua tetap dapat memberikan sentuhan, suara lembut, atau cara menenangkan lain yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Tetap Utamakan Keamanan Tidur

Terlepas dari metode yang digunakan, keamanan harus menjadi prioritas.

AAP merekomendasikan bayi tidur telentang untuk setiap waktu tidur, baik siang maupun malam. Bayi juga sebaiknya tidur di tempat tidur khusus bayi dengan permukaan yang kokoh dan tanpa benda-benda lunak yang dapat meningkatkan risiko sesak napas.

NHS juga merekomendasikan bayi tidur di tempat tidur bayi yang berada di kamar yang sama dengan orang tua selama setidaknya enam bulan pertama.

Tidak Perlu Memaksakan Jika Anak Belum Siap

Setiap anak memiliki perkembangan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, orang tua tidak perlu membandingkan pola tidur anak dengan bayi lain.

Jika bayi sedang sakit, mengalami masalah makan, memiliki kondisi medis tertentu, atau orang tua merasa ada gangguan tidur yang menetap, konsultasi dengan dokter anak atau tenaga kesehatan dapat dilakukan sebelum menerapkan metode sleep training.

Pada akhirnya, sleep training bukan tentang membuat bayi tidur sendiri secepat mungkin. Tujuannya adalah membantu anak secara bertahap membangun kebiasaan tidur yang sehat dan kemampuan untuk kembali tidur secara mandiri, dengan tetap memperhatikan kebutuhan emosional serta keselamatan anak.

Jadi, kapan bisa dimulai? Rutinitas tidur sehat dapat diperkenalkan sejak dini, sedangkan pembiasaan bayi untuk belajar tertidur secara mandiri umumnya mulai lebih memungkinkan sekitar usia empat bulan ke atas. Namun, kesiapan setiap bayi berbeda dan pendekatan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....