Kenduri Literasi Metro Jadi Ruang Bincang Karya

  • 29 Sep 2026 09:31 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID., Metro — Saung Baca Ruang Pojok Nusantara menggelar Diseminasi Kenduri Literasi Metro pada 27 September 2026 di Sekretariat Saung Baca Ruang Pojok Nusantara. Kegiatan menjadi ruang apresiasi dan diskusi bagi pegiat literasi serta penulis yang terlibat dalam lahirnya antologi cerpen Peta yang Hilang. Hadir Ketua Tim KKLP Balai Bahasa Provinsi Lampung Erwin Wibowo, S.S., M.Pd., Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca Eka Syafrianto, pegiat literasi, serta para penulis antologi.

Eka Syafrianto mengatakan dukungan komunitas berperan penting dalam mendorong perkembangan literasi di Kota Metro. Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan kolaborasi dengan komunitas agar gerakan literasi dapat terus tumbuh. “Tanpa dukungan komunitas, pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak. Justru karena dukungan dari komunitas, Kota Metro semakin tumbuh dan berkembang dalam bidang literasi,” ujarnya.

Erwin Wibowo mengapresiasi Saung Baca Ruang Pojok Nusantara yang telah mempersiapkan rangkaian kegiatan sejak Agustus hingga September 2026. Ia juga menyampaikan apresiasi atas terbitnya antologi Peta yang Hilang sebagai salah satu hasil dari rangkaian Kenduri Literasi Metro.

Kegiatan dilanjutkan dengan Haul Sastra yang dipimpin Toni Wijaya. Peserta mengirimkan doa dan penghormatan kepada sejumlah sastrawan pendahulu Lampung, yakni Rifian Hadi Al Chepy, Syaiful Irba Tanpaka, Ahmad Yulden Erwin, Abdul Rouf, dan An. Zulkarnain. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup secara resmi oleh Erwin Wibowo.

Dalam penutupan, Erwin juga mengajak para pegiat literasi memperingati Hari Aksara Internasional sebagai momentum memperkuat budaya baca, tulis, dan literasi di masyarakat. Menurutnya, kegiatan literasi perlu terus dikembangkan melalui ruang perjumpaan dan kolaborasi berbagai pihak.

Diseminasi Kenduri Literasi Metro menghadirkan empat narasumber dengan perspektif berbeda. Solikhul Hadi dari Forum Taman Baca Masyarakat (TBM) Lampung membahas pentingnya membangun ekosistem literasi melalui kolaborasi komunitas, taman bacaan masyarakat, lembaga pendidikan, penulis, dan berbagai pihak lainnya.

Akademisi sekaligus sastrawan Ahmad Muzakki membahas genealogi Kota Metro dari perspektif sastra. Ia memandang kota bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan pengalaman, ingatan, cerita, dan dinamika kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber inspirasi karya sastra.

Penyelia naskah Peta yang Hilang, Hario Yodho Negoro, memberikan apresiasi kepada para penulis sekaligus mendorong mereka untuk terus mengembangkan kemampuan. Menurutnya, menghasilkan karya sastra membutuhkan proses melalui kegiatan membaca, menulis, mengamati, memperkaya referensi, serta menerima masukan.

Sementara itu, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) NU Kota Metro Toni Wijaya membahas tema merawat bahasa dari perspektif Islam. Ia menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan tepat karena kemampuan mengolah bahasa menjadi bagian penting dalam menyampaikan gagasan kepada pembaca.

Antologi cerpen Peta yang Hilang menjadi salah satu hasil rangkaian Ngaji Bahasa dalam Kenduri Literasi Metro 2026. Buku tersebut merekam proses belajar, menulis, berdiskusi, dan berkarya para peserta, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi di Kota Metro melalui kolaborasi antara pegiat literasi, penulis, akademisi, dan pemerhati kebudayaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....