Etika Bermedia Sosial Cerminkan Nilai Indonesia

  • 08 Sep 2026 10:45 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Etika dalam menggunakan media sosial dinilai semakin penting di tengah mudahnya masyarakat mengakses berbagai platform digital. Ketua Komunitas Literasi Budaya Nusantara sekaligus Dosen Universitas Bandar Lampung, Dr. Susanto, mengatakan masyarakat perlu menjaga kesopanan saat berinteraksi di ruang digital sebagai bagian dari penerapan nilai keindonesiaan. Etika dalam menggunakan media sosial dinilai semakin penting di tengah mudahnya masyarakat mengakses berbagai platform digital. Ketua Komunitas Literasi Budaya Nusantara sekaligus Dosen Universitas Bandar Lampung, Dr. Susanto, mengatakan masyarakat perlu menjaga kesopanan saat berinteraksi di ruang digital sebagai bagian dari penerapan nilai keindonesiaan. Etika dalam menggunakan media sosial dinilai semakin penting di tengah mudahnya masyarakat mengakses berbagai platform digital. Ketua Komunitas Literasi Budaya Nusantara sekaligus Dosen Universitas Bandar Lampung, Dr. Susanto, mengatakan masyarakat perlu menjaga kesopanan saat berinteraksi di ruang digital sebagai bagian dari penerapan nilai keindonesiaan.

"Media sosial menghadirkan kondisi berbeda dibandingkan interaksi secara langsung. Pengguna dapat berkomunikasi tanpa berhadapan dengan lawan bicara, bahkan menggunakan akun anonim. Kondisi tersebut dapat menciptakan “ilusi dunia maya” yang membuat seseorang lebih berani menyampaikan kata-kata kasar atau tidak pantas." kata Susanto.

Ia menjelaskan, kebebasan berpendapat tetap menjadi bagian penting dalam bermedia sosial. Namun, kebebasan tersebut harus dibedakan dari tindakan menghina atau menyerang pribadi seseorang. Kritik seharusnya ditujukan kepada gagasan, kebijakan, atau persoalan yang ingin diperbaiki, bukan menyerang fisik, latar belakang, maupun pribadi orang lain.

Susanto mencontohkan kritik terhadap kondisi jalan yang rusak. Masyarakat dapat menyampaikan keluhan dan meminta pemerintah melakukan perbaikan karena kondisi tersebut membahayakan warga. Namun, kritik tersebut tidak seharusnya disertai penghinaan terhadap pejabat atau pihak tertentu.

"Penggunaan bahasa yang sopan juga perlu disesuaikan dengan konteks. Bahasa gaul tidak menjadi persoalan selama digunakan secara tepat, terutama di antara teman sebaya. Namun, penggunaan bahasa kepada orang tua, guru, dosen, atau pihak yang menjadi panutan tetap perlu memperhatikan norma kesopanan.

Ia menegaskan bahwa karakter seseorang dalam bermedia sosial dapat terlihat dari pilihan bahasa dan cara menyampaikan pendapat. Pengguna media sosial yang beretika tetap dapat mengkritik dan menyampaikan perbedaan pandangan, tetapi tidak menjadikan penghinaan sebagai bagian dari kritik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....