Hutan Mangrove, Benteng Hijau Penjaga Pesisir

  • 08 Apr 2026 10:59 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung – Hutan mangrove adalah ekosistem khas pesisir tropis yang terdiri dari kumpulan pohon dan semak yang tahan hidup di air asin, lumpur, dan pasang surut. Ciri khasnya, akar napas yang mencuat ke atas dan akar tunjang yang kokoh. Di Indonesia, kita biasa menyebutnya hutan bakau.

Dikutip dari laman resmi Kemenlh.go.id, Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melakukan Konsultasi Publik Dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional. Kegiatan lintas sektor ini merupakan tindak lanjut amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2025, sekaligus bagian dari upaya penyempurnaan kebijakan strategis perlindungan mangrove di Indonesia.

Indonesia sendiri memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia, dengan luas sekitar 3.455.628 hektare berdasarkan SK Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional. Luasan tersebut mencakup sekitar 20–25 persen dari total mangrove global. Ekosistem ini berperan penting sebagai penyangga kehidupan, mulai dari melindungi lebih dari 17.000 kilometer garis pantai dari abrasi dan banjir rob, menjadi habitat bagi lebih dari 200 spesies ikan, hingga menyimpan cadangan karbon biru dalam jumlah besar serta menopang kehidupan sekitar 50 juta masyarakat pesisir.

Namun, dalam satu dekade terakhir tekanan terhadap ekosistem mangrove terus meningkat. Laju degradasi mencapai puluhan ribu hektare per tahun akibat berbagai faktor, seperti konversi lahan, pencemaran, dan dampak perubahan iklim. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya risiko bencana, menurunnya produktivitas perikanan, serta mengancam komitmen nasional, sehingga membutuhkan respons yang cepat, terarah, dan komprehensif.

Sebagai respon, RPPEM Nasional disusun sebagai instrumen perencanaan jangka panjang selama 30 tahun (2026–2055). Dokumen ini dirancang untuk menjembatani perlindungan lingkungan berbasis daya dukung ekosistem dengan kebutuhan pembangunan sosial dan ekonomi.

Mengapa mangrove penting?

Mangrove itu multitasking. Perannya tidak main-main, yakni :

-Penahan abrasi dan tsunami : Akar mangrove yang rapat jadi peredam alami gelombang dan arus laut. Ombak besar yang lewat meangrove bisa berkurang 66-90 % energinya. Makanya daerah berpantai dengan mangrove yang lebat lebih aman dari abrasi.

-Lumbung karbon : Tanah berlumpur mangrove menyimpan karbon 3-5x lebih banyak dari hutan darat. Ini membuat mangrove menjadi senjata ampuh melawan perubahan iklim.

-Rumah biota laut : 75% ikan komersial yang kita makan masa kecilnya dihabitat mangrove. Udang, kepiting, kerang juga berkembang biak disini. Tanpa mangrove, hasil tangkapan nelayan bisa anjlok.

-Penyaring alami : Akar mangrove menyaring polutan, sedimen, dan sampah sebelum masuk ke laut. Air menjadi jernih, terumbu karang juga ikut terlindungi.

-Sumber ekonomi : Dari ekowisata, madu bakau, pewarna alami, sampai obat-obatan. Banyak warga pesisir Lampung menggantungkan hidupnya dari mangrove.

Apa yang bisa kita lakukan ?

  1. Dukung ekowisata mangrove seperti yang ada di Lampung, Pantai Margasari, Petengoran, atau Sari Ringgung. Kita bisa berwisata sambil konservasi.
  2. Jangan membuang sampah ke laut, karena akan berakhir di kawasan mangrove.
  3. Ikut aksi tanam mangrove, 1 bibit yang ditanam bisa menyerap 0,5 ton CO2 seumur hudupnya.
  4. Beli produk olahan mangrove dari UMKM lokal agar masyarakat pesisir mempunyai insentif menjaga hutannya.

Hutan mangrove itu ibarat tameng yang selama ini kerja diam-diam menjaga kita dari bencana. Kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi ?.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....