Beban BPJS Bengkak, Dampak Ekonomi Rokok Capai Tiga Kali Lipat Cukai
- 26 Mar 2026 16:19 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung – Kerugian ekonomi akibat konsumsi rokok di Indonesia dinilai jauh lebih besar dibandingkan pemasukan negara dari sektor cukai. Pakar ekonomi kesehatan mencatat biaya yang harus dikeluarkan masyarakat dan negara mencapai tiga kali lipat dari nilai pajak tembakau.
Pengeluaran rutin rumah tangga untuk belanja rokok harian menjadi faktor utama pengikisan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Dana tersebut seharusnya dapat dialokasikan untuk pemenuhan gizi keluarga maupun investasi masa depan seperti pendidikan atau hunian.
Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya pembiayaan kesehatan akibat penyakit katastrofik yang sulit disembuhkan dan berbiaya mahal. Penyakit seperti kanker, jantung, hingga gagal ginjal kini mulai menyerang penduduk dengan usia yang jauh lebih muda.
Ketua Perhimpunan Epidemiolog Lampung Ismen Mukhtar menjelaskan kaitan erat antara tingginya jumlah perokok dengan defisit anggaran jaminan kesehatan nasional. Ia menekankan iuran masyarakat yang sehat justru tersedot untuk membiayai pengobatan penyakit akibat perilaku merokok.
“Tiga kali lipat kita menghabiskan uang dibandingkan kita mendapat uang dari cukai rokok itu dan BPJS Kesehatan terus mengalami defisit akibat dominasi penyakit katastrofik,” ujar Ismen Mukhtar, Kamis 26 Maret 2026.
Situasi tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat menjadi terbatas karena keterbatasan anggaran operasional BPJS. Program jaminan kesehatan sosial seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas fasilitas medis jika beban penyakit tidak menular dapat ditekan.
Pemerintah didorong lebih serius dalam merumuskan strategi pengendalian konsumsi rokok guna menyelamatkan anggaran negara. Kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem kesehatan yang lebih sehat serta berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....