Hoaks dan Narasi Antivaksin di Media Sosial Bisa Ancam Nyawa Anak

  • 15 Mar 2026 11:45 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung – Ketua Perhimpunan Epidemiolog Lampung, Ismen Mukhtar, menyoroti maraknya suara kelompok anti-vaksin di media sosial yang menghambat capaian imunisasi nasional. Narasi negatif yang disebarkan tanpa dasar ilmiah tersebut dinilai sangat berbahaya karena dapat memengaruhi keputusan orang tua dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi anak.

Ismen menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak divaksin saat ini sebenarnya hanya terlindungi oleh keberadaan anak-anak lain yang memiliki kekebalan kelompok. Jika cakupan imunisasi terus menurun akibat pengaruh hoaks, maka perlindungan kolektif tersebut akan runtuh dan memicu ledakan kasus penyakit mematikan.

Pihaknya menyayangkan tindakan oknum yang sering mengunggah informasi salah terkait efek samping vaksin demi menakut-nakuti masyarakat luas. Masyarakat diimbau untuk mempelajari manfaat imunisasi secara mendalam dari sumber yang kompeten sebelum menyebarkan informasi di jagat maya.

“Itu dosanya besar kalau menurut saya, membahayakan nyawa orang lain melalui pesan-pesan yang dia sampaikan,” ujar Ismen Mukhtar, Minggu 15 Maret 2026.

Terkait adanya gejala demam setelah imunisasi, Ismen menegaskan bahwa hal tersebut merupakan reaksi alami tubuh yang sedang membentuk sistem pertahanan. Masyarakat sering kali salah mengidentifikasi kejadian sakit yang kebetulan terjadi bersamaan dengan jadwal imunisasi sebagai dampak langsung dari vaksin.

Kegagalan komunikasi dalam menjelaskan fakta medis secara cepat dan transparan diakui menjadi celah masuknya informasi yang menyesatkan. Pemerintah melalui instansi terkait perlu bekerja lebih lugas dalam mengedukasi warga agar tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kesadaran kolektif untuk menjaga kesehatan komunitas menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit menular di Lampung. Perlindungan terhadap nyawa generasi mendatang tidak boleh dikalahkan oleh opini yang tidak berbasis pada data dan penelitian medis yang valid.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....