Jembatan Merah Putih di Pringsewu Permudah Akes Anak Sekolah,
- 10 Mar 2026 20:07 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Pringsewu - Pagi itu, beberapa anak sekolah tampak berjalan beriringan melintasi jembatan gantung yang membentang di atas Sungai Way Sekampung. Jembatan tersebut menghubungkan Pekon Sukoharjo IV dengan Pekon Yogyakarta di Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Selasa 10 Maret 2026.
Dengan seragam merah putih dan tas di punggung, mereka melangkah pelan menuju sekolah di seberang sungai. Sebagian lainnya diantar orang tua menggunakan sepeda motor yang juga melintas di jembatan tersebut.
Bagi anak-anak itu, perjalanan menuju sekolah kini terasa lebih mudah. Waktu tempuh menjadi lebih efisien, bahkan bisa memangkas perjalanan hingga 30 menit dibandingkan harus memutar melalui jalan raya yang bisa memakan waktu sekitar 50 menit.
Sebelum jembatan Merah Putih berdiri, anak-anak harus menyeberangi sungai dengan rasa cemas. Jembatan lama yang sudah tua kerap membuat warga khawatir saat melintas. Tak sedikit pula yang harus menunggu rakit bambu atau getek untuk menyeberang, bergantian dengan warga lain yang hendak melintas.
Wika, seorang siswa sekolah dasar asal Pekon Yogyakarta, mengaku kini bisa sampai ke sekolah dengan lebih cepat dan nyaman.
“Sekarang lebih enak lewat jembatan, tidak perlu menunggu getek lagi,” ujarnya singkat.
Perubahan juga dirasakan para guru. Lina, seorang guru yang terkadang melintas di wilayah tersebut, mengatakan sebelumnya beberapa siswa kerap datang terlambat karena harus menyeberangi sungai terlebih dahulu.
“Kalau air sungai sedang deras atau getek belum ada, anak-anak harus menunggu. Kadang itu yang membuat mereka terlambat masuk kelas,” katanya.
Menurut Lina, keberadaan jembatan sangat membantu siswa karena perjalanan menuju sekolah kini menjadi lebih aman dan cepat. Ia berharap dengan akses yang lebih mudah, semangat belajar anak-anak juga semakin meningkat.
Tak hanya bagi anak sekolah, kehadiran jembatan di Sungai Way Sekampung juga membawa perubahan bagi warga sekitar.
Ciptowardoyo (54), warga Pekon Sukoharjo IV, mengaku sudah puluhan tahun menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu. Kebiasaan itu sudah berlangsung sejak sekitar tahun 1980-an, ketika kawasan di sekitar sungai masih sepi permukiman.
“Dulu kalau menyeberang pakai bambu atau getek,” ujarnya.
Saat itu, cara tersebut menjadi satu-satunya pilihan warga untuk menuju wilayah seberang sungai. Kini, setelah jembatan gantung berdiri, warga tidak lagi harus menunggu rakit untuk menyeberang. Bagi Cipto, perubahan tersebut sangat membantu aktivitas sehari-hari, termasuk ketika ia pergi berjualan sangkar burung atau menuju wilayah Pringsewu.
“Kalau lewat sini biasanya untuk jualan sangkar burung atau pergi ke Pringsewu,” katanya.
Kini, setiap pagi jembatan yang membentang di atas Sungai Way Sekampung tak hanya menjadi penghubung dua pekon. Jembatan itu juga menjadi jalur harapan bagi anak-anak yang melangkah menuju sekolah, bagi guru yang menunggu mereka di kelas, serta bagi warga yang menjalani aktivitas sehari-hari di seberang sungai.