Asal Usul Tradisi Kue Lebaran
- 03 Mar 2026 09:53 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Tradisi menyajikan kue kering saat Idulfitri di Indonesia ternyata memiliki akar sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda pada abad ke-19 hingga ke-20. Budaya ini lahir dari proses akulturasi antara kuliner Eropa dan kebiasaan masyarakat pribumi. Kue-kue kering khas Eropa yang dalam Bahasa Belanda dikenal dengan istilah koekjes kemudian diperkenalkan dan disesuaikan dengan selera lokal.
Pada awal kemunculannya, kue kering menjadi simbol status sosial di kalangan bangsawan dan masyarakat kelas menengah ke atas. Menyajikan kue ala Eropa dianggap lebih modern dan bergengsi dibandingkan kue tradisional berbahan sagu atau ketan yang dinilai kurang tahan lama. Seiring waktu, tradisi tersebut menyebar luas dan tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu.
Beberapa kue populer yang kini identik dengan Lebaran memiliki asal-usul dari Belanda. Seperti Kue Nastar yang berasal dari gabungan kata ananas (nanas) dan taart (tart). Awalnya, isian tart menggunakan selai blueberry, namun karena sulit diperoleh di Indonesia, diganti dengan selai nanas yang lebih mudah ditemukan.
Sementara Kastengel berasal dari kata kaas (keju) dan stengels (batang), kue keju yang dahulu populer di rumah-rumah pejabat Belanda. Selain itu, Kue Semprit juga terinspirasi dari teknik pembuatan kue Eropa menggunakan alat semprot atau spuit. Teknik ini menghasilkan bentuk kue yang cantik dan beragam, sehingga menarik untuk disajikan saat hari raya.
Tak hanya sebagai hidangan tamu, kue kering juga memiliki fungsi sosial penting. Pada masa kolonial, kue kering kerap dijadikan hantaran atau hadiah antara orang Eropa dan pribumi saat perayaan tertentu.
Tradisi berbagi tersebut kemudian melekat dalam budaya silaturahmi Idulfitri. Hingga kini, kue kering tetap identik dengan Lebaran karena daya tahannya yang lama, sehingga cocok disajikan berhari-hari saat menyambut tamu di hari raya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....