Membedakan Sikap Sok Keras dan Ketegasan Sejati
- 31 Jan 2026 23:17 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Dalam interaksi sosial, sikap keras sering kali disalahartikan. Tidak semua perilaku keras mencerminkan ketegasan yang sehat. Secara psikologis, terdapat perbedaan mendasar antara individu yang bersikap keras secara autentik dan individu yang menampilkan sikap keras sebagai bentuk kompensasi diri.
American Psychological Association, sebagai organisasi profesi psikolog yang menaungi peneliti dan praktisi psikologi, menjelaskan bahwa perbedaan tersebut dapat dilihat dari motivasi perilaku. Individu yang benar-benar tegas umumnya memiliki kejelasan nilai, stabilitas emosi, dan kemampuan mengatur diri. Sikap keras yang ditampilkan bersifat fungsional dan berkaitan dengan kemampuan self-regulation. Sebaliknya, perilaku keras yang dibuat-buat sering muncul sebagai defense mechanism untuk menutupi rasa tidak aman atau kecemasan internal.
| Baca juga: Cara Menghadapi Hari Buruk tanpa Drama |
Dari sisi perilaku sosial, World Health Organization menyatakan bahwa ketegasan yang sehat ditandai dengan kemampuan menyampaikan pendapat dan kebutuhan secara jelas melalui assertive communication, tanpa merendahkan atau mengintimidasi pihak lain. Individu yang memang tegas menunjukkan konsistensi sikap dan mampu menerima perbedaan pendapat tanpa reaksi emosional berlebihan.
Sebaliknya, individu yang bersikap sok keras cenderung memperlihatkan respons yang reaktif dan defensif. Brené Brown, peneliti dan profesor riset di University of Houston, menjelaskan bahwa perilaku dominan yang berlebihan sering berakar pada ketakutan akan penilaian sosial dan kerentanan emosional yang tidak disadari. Dalam konteks ini, sikap keras berfungsi sebagai emotional armor, bukan sebagai cerminan kekuatan psikologis.
Daniel Goleman, psikolog yang dikenal melalui kajian emotional intelligence, menekankan bahwa ketegasan yang matang berkaitan erat dengan kemampuan mengelola emosi. Individu dengan kecerdasan emosional yang baik tidak merasa perlu membuktikan kekuatan melalui tekanan atau dominasi. Sebaliknya, sikap keras yang tidak autentik sering disertai kesulitan mengendalikan emosi dan kebutuhan untuk menguasai situasi.
Dengan demikian, perbedaan utama antara orang yang sok keras dan orang yang memang keras secara autentik terletak pada motivasi internal, konsistensi perilaku, serta kemampuan emotional regulation. Ketegasan yang sehat berakar pada kepercayaan diri dan kesadaran diri, sedangkan sikap keras yang dibuat-buat umumnya mencerminkan ketidakamanan psikologis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....