“Lo Orang”, Ciri Bahasa Pergaulan Masyarakat Lampung

  • 16 Jan 2026 13:13 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung – Kalau jalan ke Lampung, pasti tidak asing dengan ungkapan “lo orang” dan “kita orang” yang kerap terdengar dalam percakapan sehari-hari masyarakat setempat. Ungkapan tersebut merupakan bentuk kata ganti jamak yang lazim digunakan untuk merujuk pada seseorang maupun sekelompok orang.

Ungkapan “kita orang” digunakan untuk menyebut kita atau kami, “kamu orang” berarti kalian, sementara “dia orang” merujuk pada mereka. Karena bermakna jamak, ungkapan ini juga kerap digunakan untuk menyebut rombongan atau kelompok dalam interaksi sosial.

Seiring perkembangan bahasa pergaulan, khususnya di kalangan generasi muda, muncul pula istilah “lo orang” yang memiliki makna serupa dengan “kamu orang”. Penggunaan istilah tersebut tidak terlepas dari kebiasaan sebagian anak muda di Lampung yang menggunakan sapaan gua–lo dalam komunikasi sehari-hari.

Meski demikian, sebagian masyarakat tetap menggunakan ungkapan “kamu orang” karena dinilai lebih sopan dan mencerminkan keakraban dalam berkomunikasi. Pemilihan istilah umumnya disesuaikan dengan situasi, tempat, serta lawan bicara.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung, Chintya Shafa, mengatakan bahwa ungkapan “kamu orang” dan “lo orang” pada dasarnya memiliki makna yang sama, yakni untuk merujuk pada suatu kelompok atau perkumpulan. Menurutnya, istilah tersebut umumnya digunakan oleh generasi Z saat berkomunikasi dengan teman sebaya, namun juga dapat digunakan oleh kalangan yang lebih tua kepada yang lebih muda, tergantung situasi dan konteks.

“Penggunaan ungkapan tersebut biasanya bertujuan untuk menciptakan suasana obrolan yang lebih santai dan akrab. Keberadaan ‘lo orang’ dan ‘kamu orang’ juga menjadi bagian dari variasi bahasa di Lampung,” ujarnya.

Chintya menambahkan, dalam bahasa Lampung sendiri terdapat kata ganti jamak “tiyan” yang memiliki makna serupa dengan kata “kalian” dalam bahasa Indonesia.

Penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut telah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun dan masih digunakan hingga saat ini. Selai sebagai alat komunikasi, ungkapan ini juga mencerminkan identitas lokal serta menjadi bagian dari budaya dan adat istiadat masyarakat Lampung.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....