Mengenal Peninggalan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
- 31 Mei 2025 23:39 WIB
- Bandar Lampung
KBRN, Bandar Lampung: Di Indonesia ada banyak kerajaan-kerajaan yang mengawali sejarah nusantara dengan latar agama yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Kerajaan Sriwijaya yaitu sebuah kerajaan Buddha yang pernah berdiri di nusantara dan diperkirakan berdiri pada sekitar abad ketujuh.
Kerajaan Sriwijaya memiliki beberapa peninggalan dan ada beberapa peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang belum diketahui oleh banyak orang.
Berikut adalah beberapa peninggalannya:
1. Prasasti Kedukan Bukit
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang pertama adalah berupa prasasti yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti ini ditemukan di sekitar tepian sungai Batang, Kedukan Bukit di Kota Palembang.
Pada prasasti peninggalan kerajaan, tertulis angka tahun yaitu pada 686 M yang ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa serta menggunakan bahasa Sansekerta.
Dalam prasasti tersebut, berisi ungkapan tentang Dapunta Hyang yang menaiki sebuah perahu serta mengisahkan tentang kemenangan dari Kerajaan Sriwijaya.
2. Prasasti Kota Kapur
Peninggalan kedua dari Kerajaan Sriwijaya adalah prasasti Kota Kapur yang ditemkan di sekitar Pulau Bangkan di sebelah barat dan berisi mengenai kutukan untuk orang-orang yang berani melanggar perintah dari Raja Kerajaan Sriwijaya saat itu.
3. Prasasti Telaga Batu
Prasasti berikutnya adalah prasasti Telaga Batu yang ditemukan di Kolam Telaga Biru di Kecamatan Ilir Timur di Kota Palembang. Dalam prasasti tersebut, berisi mengenai kutukan mengenai orang-orang jahat yang berada di sekitar wilayah Kerajaan Sriwijaya.
4. Prasasti Karang Berahi
Prasasti ini disebut sebagai Karang Berahi dikarenakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di Desa Karang Berahi, Merangi di Jambi. Dalam prasasti tersebut, berisi mengenai kutukan mengenai orang yang bersikap jahat serta tidak setia pada Raja Sriwijaya.
5. Prasasti Palas Pasemah
Peninggalan lain dari Kerajaan Sriwijaya adalah prasasti yang ditemukan di sekitar pinggir rawa Desa Palas Pasemah di Lampung Selatan. Dalam prasasti tersebut, ditulis dengan menggunakan huruf Pallawa serta menggunakan bahasa Melayu Kuno. prasasti ini berisi mengenai kutukan pada orang-orang jahat yang tidak setia kepada Raja Sriwijaya.
6. Prasasti Talang Tuo
Dalam prasasti Talang Tuo, berisi tentang doa dari Buddha Mahayana serta kisah tentang pembangunan sebuah taman dari Sri Jayasana.
7. Prasasti Hujung Langit
Prasasti ketujuh ditemukan di sekitar daerah Desa Haur Kuning di Lampung, di dalam prasasti tersebut, ada sebuah angka tahun yang menunjukan tahun 997 m.
8. Prasasti Ligor
Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya berupa prasasti Ligor ditemukan di sekitar wilayah Thailand tepatnya di sebelah selatan dan prasasti tersebut ditemukan oleh seseorang bernama Nakhon Si Thammarat.
Dalam prasasti Ligor tersebut, berisi tentang kisah dari seorang Raja Sriwijaya yang membangun sebuah Tisamaya Caitya untuk Kajara.
9.Prasasti Leiden
Seperti halnya prasasti peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya yang lainnya, prasasti Leiden juga ditulis dengan menggunakan bahasa Sansekerta pada lempengan tembaganya.
Selain ditulis dengan menggunakan bahasa Sansekerta, prasasti tersebut juga ditulis dengan menggunakan bahasa Tamil yang menceritakan mengenai hubungan dinasti Chola dengan dinasti Syailendra dari Kerajaan Sriwijaya.
10. Candi Muara Takus
Selain peninggalan yang berupa prasasti, ada pula peninggalan lain yang berupa candi. Salah satunya adalah candi Muara Takus yang berada di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Candi Muara Takus memiliki corak Buddha yang khas dengan beberapa susunan stupa di atasnya. Di halaman candi, juga ada candi kecil dengan nama Candi Bungus, Candi Sulung, Stupa Mahligai, Stupa Palangka.
11. Prasasti Nalanda
Prasasti Nalanda ditemukan di Nalanda, India dan tidak memiliki tanggal. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Dewapaladewa dari Benggala dan ditulis dalam bahasa Sansekerta
Isi dari prasasti ini adalah permintaan dari Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa (Sriwijaya) kepada Raja Dewapaladewa untuk mendirikan sebuah vihara di Nalanda.
Dikatakan bahwa Raja Balaputradewa adalah cucu dari seorang raja di Jawa yang menjadi bagian dari keluarga Syailendra bernama Sri Wirawairi mathana dan anak dari Samaragrawira, yang lahir dari Dewi Tara, putri Raja Dharmasetu.
Samaragrawira dikenal sebagai Samaratungga yang memerintah kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 824 Masehi atau 902 Masehi. Selain itu, prasasti ini juga menyebutkan bahwa lima desa di Calcutta (sekarang Kolkata), India, dibebaskan dari pajak untuk keperluan misi agama Buddha dari Kerajaan Sriwijaya.
Meskipun prasasti ini tidak ditemukan di Indonesia, Prasasti Nalanda tetap dijadikan sebagai sumber sejarah yang membuktikan keberadaan Kerajaan Sriwijaya.
12. Candi Muaro Jambi
Candi Muaro Jambi adalah candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang pertama. Ini adalah kompleks candi Hindu-Budha yang disebut sebagai candi terluas di Asia Tenggara dengan luas 3.981 hektar. Candi ini berlokasi di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Para arkeolog percaya bahwa Candi Muaro Jambi didirikan antara abad 7 hingga abad 12 Masehi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....