Polinela Sulap Menir Beras Organik Jadi Tepung Beras Bernilai Jual Tinggi
- 27 Agt 2026 09:50 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID. Bandarlampung—Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela) menghadirkan solusi inovatif bagi petani beras organik di Desa Beringin Kencana, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan. Lewat program hilirisasi berkonsep zero-value waste, butiran beras patah (menir) yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak diolah menjadi tepung beras organik berkualitas premium bernilai ekonomi tinggi.
Program Pengabdian kepada Masyarakat yang diketuai oleh Dr. Sri Handayani, S.P., M.E.P. bersama tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Lampung ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pasca-panen yang dihadapi oleh Kelompok Tani "Mitra Organik". Meski mampu menghasilkan produktivitas tinggi, proses penggilingan beras organik menghasilkan butiran patah (menir) hingga 20 persen yang tidak memenuhi standar mutu beras utuh SNI 6128:2020.
"Selama ini menir beras organik hanya dihargai sangat murah dan dijual untuk pakan ternak. Padahal secara kandungan nutrisi, menir memiliki gizi yang setara dengan beras utuh. Melalui introduksi teknologi penepungan dan pengemasan modern, kami mengonversi limbah pasca-panen ini menjadi tepung beras organik bernilai jual tinggi," ujar Sri Handayani.
Adapun keunggulan Inovasi Tepung Beras Organik Mitra Organik antara lainm Prinsip Zero Waste: Memanfaatkan 100% butiran patah (menir) beras organik menjadi produk bernilai tambah,sehat & Bebas Gluten: Bahan baku 100% beras organik tanpa bahan kimia/pestisida, cocok untuk konsumsi pangan fungsional dan MPASI,Pengemasan Modern: Menggunakan kemasan standing pouch high density polypropylene (HDPP) ukuran 1 kg yang tersealed vacuum, serta legalitas Terjamin: Didampingi penuh untuk perolehan sertifikasi Halal (BPJPH) dan Nomor Induk Berusaha (NIB).
Kegiatan Pelatihan dilaksanakan tanggal 20-21 Juli 2026 di Kelompok Tani Mitra Organik sebagai Kelompok Tani yang perdana membudidayakan padi organic dan telah memperoleh Sertifikat Organik. Dalam pelaksanaannya, tim dosen Polinela melakukan praktik langsung proses konversi beras organik menjadi tepung beras.. Proses konversi dilakukan menggunakan metode dry milling yang diawali dengan sortasi, pencucian, perendaman, pengeringan hingga kadar air di bawah 14%, penepungan, dan pengayakan halus.
Anggota tim dosen Polinela bidang Teknologi Pangan, Dwi Eva Nirmagustina, Ph.D mendampingi langsung penerimaan materi serta praktik pengolahan sesuai Standard Operating Procedure (SOP). Produk tepung beras yang dihasilkan bersifat alami, higienis, dan sangat potensial sebagai bahan baku makanan sehat bebas gluten (gluten-free), makanan pendamping ASI (MPASI), kue tradisional, hingga industri kuliner modern.
Tidak hanya fokus pada aspek produksi, tim dosen Polinela yang diperkuat oleh pakar Agribisnis seperti Dr. Irmayani Noer, S.P., M.Si. , Maria Ulfah, S.P., M.Si., Anggita Dwi Oktaviani,S.P., M.P., dan Khairunisa Noviantari, S.P., M.Si. juga memberikan pelatihan manajemen usaha. Petani dibekali materi perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), penyusunan market plan, digital marketing melalui e-commerce, hingga standarisasi Sertifikasi Halal.
Ketua Kelompok Tani Mitra Organik, Ngadiman, menyambut baik dan mengapresiasi keikutsertaan Polinela di desanya. "Pelatihan dan bantuan sarana produksi ini sangat membuka wawasan kami. Sekarang beras patah yang tadinya dianggap limbah pakan untukternak bisa kami jual dalam bentuk tepung kemasan rapi dengan harga jual naik lebih dari 100 persen," ungkap Ngadiman.
Melalui hilirisasi riset perguruan tinggi ini, Polinela membuktikan komitmennya dalam mewujudkan Indikator Kinerja Utama (IKU 3 dan IKU 5) sekaligus mendukung program prioritas nasional Asta Cita untuk penguatan ekonomi berbasis desa dan kemandirian pangan local serta Pembangunan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....