Pola Baca Gen-Z Berubah, Buku Digital Jadi Pilihan
- 30 Jan 2026 20:29 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Minat baca generasi Z di Aceh dinilai masih tinggi, meskipun pola membaca mengalami pergeseran dari buku fisik ke platform digital. Pandangan tersebut mengemuka dalam perbincangan program KHUPIE SARENG Podcast Episode #30 RRI Banda Aceh yang membahas isu masihkah Gen Z Aceh membaca.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Syaridin, S.Pd., M.Pd., menegaskan narasi bahwa generasi Z malas membaca tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, generasi muda saat ini tetap membaca, namun dengan medium yang berbeda.
“Bukan berarti Gen Z tidak membaca, tetapi bentuk bacaan mereka yang berubah. Dari buku fisik beralih ke bacaan digital, baik melalui aplikasi maupun platform daring,” ujarnya.
| Baca juga: Benarkah Minat Baca Gen Z Aceh Tinggi? |
Pandangan tersebut diperkuat oleh Ratu Baca Aceh 2024, Fania Shella. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala itu menyatakan generasi Z justru membaca hampir setiap hari, meski tidak selalu melalui buku cetak.
“Gen Z itu bukan malas membaca, hanya cara bacanya yang berubah. Sekarang banyak yang membaca lewat aplikasi seperti iPustaka Aceh, iPus, atau platform digital lain. Itu juga bagian dari literasi,” kata Fania.
Ia mengungkapkan, dirinya sendiri lebih sering membaca melalui gawai karena dinilai lebih praktis dan fleksibel. Dengan buku digital, kegiatan membaca dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, termasuk untuk menunjang kebutuhan akademik.
“Kalau baca lewat handphone, kita bisa baca di sela-sela waktu luang tanpa harus datang langsung ke perpustakaan,” ujarnya.
Fania menambahkan, tingginya indeks literasi masyarakat, termasuk di kalangan generasi Z, menunjukkan minat baca sebenarnya tetap kuat. Ia menilai tantangan ke depan bukan pada rendahnya minat baca, melainkan bagaimana menyesuaikan layanan literasi dengan kebiasaan digital generasi muda.
Sementara itu, Syaridin menyebutkan pergeseran dari buku fisik ke digital menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengelola perpustakaan. Menurutnya, kehadiran buku digital tidak serta-merta mengurangi kualitas membaca, selama masyarakat tetap mengakses bahan bacaan yang bermutu.
“Yang terpenting bukan medianya, tetapi bagaimana budaya membaca itu terus tumbuh. Perpustakaan harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” jelasnya.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh berharap stigma negatif terhadap minat baca generasi Z dapat diluruskan, sekaligus mendorong penguatan literasi yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....