Kurangnya Pemahaman Masyarakat Perparah Ancaman Gambut Aceh

  • 08 Sep 2026 07:39 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Ancaman terhadap kawasan gambut Aceh tidak hanya dipicu oleh kerusakan lingkungan, tetapi juga rendahnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai fungsi dan karakteristik gambut. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko kebakaran, banjir dan penurunan permukaan tanah yang terjadi berulang di sejumlah wilayah.

Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Dr. Monalisa, SP, M.Si., mengatakan sebagian masyarakat yang tinggal di kawasan gambut masih belum memahami sepenuhnya ekosistem tempat mereka bermukim. Temuan itu antara lain terlihat dari riset yang dilakukan terhadap sekitar 900 responden di kawasan Singkil yang memadukan kajian ekologi dan pengetahuan sosial masyarakat.

Monalisa menyebut persoalan pemahaman tersebut cukup serius karena sebagian warga bahkan tidak mengetahui batas kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil maupun karakter lahan yang mereka tempati. “Kalau saya lihat secara keseluruhan, 80 persen dari mereka tidak paham pemanfaatan lahan gambut,” ujarnya dalam dialog Green Radio RRI Banda Aceh, Sabtu, 5 September 2026.

Menurutnya, keterbatasan pengetahuan tersebut dapat melahirkan sikap pasrah atau fatalisme ketika masyarakat menghadapi banjir dan persoalan lingkungan lainnya. “Fatalisme itu sebuah istilah ya, artinya pasrah, karena mereka merasa lack of knowledge, mereka kurang pengetahuan tentang gambut,” kata Monalisa.

Ia mengatakan, masyarakat yang terus menghadapi bencana berulang dapat menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah dan hanya menunggu bantuan dari pihak lain. Padahal, gambut memiliki fungsi penting sebagai cadangan air dan membutuhkan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik ekologisnya agar tidak semakin rusak.

Ancaman lain muncul ketika kawasan gambut yang sebelumnya memiliki tutupan hutan primer mulai terbuka untuk kepentingan perkebunan, meski menurut Monalisa tidak seluruh kawasan dialihkan untuk sawit. Ia menyebut hilangnya tutupan hutan dapat berdampak terhadap biodiversitas, sementara sejumlah kawasan lain juga dimanfaatkan untuk perkebunan karet maupun komoditas lainnya.

Monalisa menilai edukasi masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi sesaat. “Kami tetap turun walaupun tanpa dana dengan skema-skema, misalnya riset saya pribadi memberikan penyuluhan, tapi titik kawasan tadi 338.000 hektar dengan sekian masyarakat yang bermukim, kita enggak bisa jangkau semua,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....