Jangan Bergantung pada AI, PII Banda Aceh Tekankan Pentingnya Berpikir Kritis
- 15 Agt 2026 09:40 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Kemajuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai telah membawa perubahan besar terhadap pola belajar generasi muda. Di balik kemudahan yang ditawarkan, pelajar diingatkan agar tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas yang menghilangkan proses berpikir dan kemampuan menganalisis persoalan.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif "Cek Cerita Kamu" Pro 2 RRI Banda Aceh pada Rabu 5 Agustus 2026 yang menghadirkan Ketua Kaderisasi PD Pelajar Islam Indonesia (PII) Banda Aceh, Akbar, dan Ketua Umum PD PII Banda Aceh, Maulidil Fikri. Keduanya sepakat bahwa AI merupakan teknologi yang patut dimanfaatkan secara bijak, bukan dijadikan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Akbar mengatakan, saat ini banyak pelajar lebih terbiasa mencari jawaban instan dibandingkan memahami proses memperoleh jawaban tersebut. Menurutnya, kondisi itu berpotensi menurunkan kemampuan berpikir kritis apabila penggunaan AI dilakukan secara berlebihan tanpa disertai upaya memahami materi yang dipelajari.
"Yang paling bahaya mungkin orang yang bergantung pada AI. Karena kalau orang bergantung pada AI, mereka tidak berpikir lagi, tidak berpikir kritis lagi," kata Akbar. Ia menambahkan, pelajar seharusnya tetap berusaha mencari solusi sendiri terlebih dahulu sebelum meminta bantuan AI untuk memperoleh informasi tambahan.
Sementara itu, Maulidil Fikri menilai AI memang memberikan banyak manfaat dalam mendukung aktivitas belajar, mulai dari mencari referensi hingga mengembangkan ide. Namun, ia mengingatkan bahwa seorang pelajar harus mampu mengendalikan teknologi, bukan justru dikendalikan oleh teknologi yang digunakannya.
"Yang paling penting ialah memimpin diri sendiri. Apabila seorang pelajar malah menjadi mesin oleh AI, bukan AI yang menjadi mesin bagi dirinya, itu berarti sebuah kegagalan dalam memimpin dirinya sendiri," ujar Maulidil. Menurutnya, AI dapat meningkatkan produktivitas apabila dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi tetap harus diiringi kemampuan berpikir, kreativitas, dan tanggung jawab akademik.
Kedua narasumber juga menyoroti praktik penggunaan AI dalam menyelesaikan tugas sekolah tanpa memahami isi jawaban yang diberikan. Mereka menilai kebiasaan menyalin hasil AI secara langsung dapat mengarah pada ketidakjujuran akademik karena menghilangkan proses belajar yang seharusnya dijalani setiap pelajar.
Akbar mengimbau agar setiap jawaban yang dihasilkan AI tetap diperiksa kembali melalui berbagai referensi. Ia menilai AI masih memiliki kemungkinan menghasilkan informasi yang kurang tepat sehingga pelajar perlu melakukan verifikasi sebelum menggunakannya sebagai sumber belajar.
Pandangan serupa disampaikan Maulidil yang menyarankan pelajar menyusun jawaban berdasarkan pemahaman sendiri terlebih dahulu sebelum meminta AI membantu menyempurnakan susunan bahasa. Dengan cara tersebut, proses berpikir tetap berlangsung sehingga teknologi benar-benar menjadi pendukung pembelajaran, bukan pengganti kemampuan intelektual.
Selain membahas pemanfaatan AI, dialog tersebut juga mengangkat tantangan maraknya konten digital hasil kecerdasan buatan yang sulit dibedakan dengan karya asli. Menurut narasumber, generasi muda perlu memiliki literasi digital yang baik agar mampu mengenali informasi yang valid dan tidak mudah terpengaruh oleh manipulasi visual maupun informasi palsu.
Menutup dialog, kedua narasumber mengajak pelajar dan mahasiswa menjadikan AI sebagai sarana memperluas wawasan, bukan sebagai alat untuk menghindari proses belajar. Mereka menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis, kejujuran, kreativitas, dan karakter tetap menjadi modal utama yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....