Data Satelit hingga IoT, Cara Baru Selamatkan Pertanian Aceh dari Krisis Iklim

  • 05 Agt 2026 09:37 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pemanfaatan teknologi dan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap produk lokal dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman krisis iklim. Selain mendukung produktivitas sektor pertanian, kedua langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi ketergantungan Aceh terhadap pasokan pangan dari luar daerah.

Founder dan Executive Director Rumah Pangan Aceh, Rivan Rinaldi, mengatakan perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu petani beradaptasi dengan perubahan iklim. Mulai dari sistem irigasi berbasis Internet of Things (IoT), pemantauan unsur hara tanah, hingga pemanfaatan data satelit dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko gagal panen.

"Teknologi itu diciptakan untuk memudahkan kita. Dengan teknologi, petani bisa mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan tanaman sehingga penggunaan air maupun pupuk menjadi lebih efisien," kata Rivan dalam Dialog Green Radio RRI Banda Aceh pada Sabtu 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan teknologi prediksi iklim juga memungkinkan petani memperoleh peringatan dini terhadap cuaca ekstrem sehingga dapat menentukan waktu tanam maupun panen dengan lebih tepat.

Menurut Rivan, selain inovasi teknologi, penguatan ketahanan pangan juga harus dibangun melalui perubahan pola pikir masyarakat dalam menghargai hasil pertanian lokal. Ia menilai masih banyak masyarakat yang lebih mengutamakan harga murah dibandingkan memberikan apresiasi terhadap jerih payah petani, padahal keberlangsungan produksi pangan sangat bergantung pada kesejahteraan mereka.

Ia mengungkapkan pengalaman saat mengunjungi pasar tani di Amerika Serikat menunjukkan masyarakat di sana rela membayar lebih mahal demi mendukung petani lokal. "Mereka sadar bahwa petanilah yang menjaga ketahanan pangan mereka, sehingga membeli produk petani lokal menjadi bentuk dukungan nyata," ujarnya. Rivan berharap kesadaran serupa dapat tumbuh di Aceh agar petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil produksinya.

Di sisi lain, Rivan menyebut Aceh masih memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap pasokan pangan dari luar daerah, khususnya Sumatera Utara. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama karena apabila terjadi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem maupun bencana, masyarakat akan menghadapi risiko kenaikan harga hingga keterbatasan pasokan bahan pangan.

Ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun ketahanan pangan melalui dukungan terhadap petani, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan konsumsi produk lokal. "Mulailah men-support petani lokal, produk lokal, dan UMKM lokal, karena merekalah yang akan memberikan kontribusi bagi ketahanan pangan kita di masa depan," tutup Rivan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat, ketahanan pangan Aceh diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....