WCD Aceh Dorong Generasi Muda Aktif dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Data
- 05 Agt 2026 09:32 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh: World Clean Up Day (WCD) Aceh terus mendorong keterlibatan generasi muda dalam upaya menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah berbasis data dan aksi nyata di lapangan. Selain menggelar kegiatan plogging secara rutin, komunitas tersebut juga mengajak anak muda untuk berkontribusi sesuai bidang keahlian masing-masing, mulai dari edukasi, riset hingga pengolahan data lingkungan.
Anggota Divisi Database and Research WCD Aceh, Rafika Syifa, mengatakan ketertarikannya bergabung dengan komunitas tersebut berangkat dari kepedulian terhadap persoalan sampah yang dinilai semakin mendesak. Berbekal latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat, ia memilih berkontribusi melalui pengelolaan data sebagai dasar penyusunan program lingkungan. "Karena sampah merupakan persoalan yang serius, saya ingin kontribusi kecil yang dilakukan sekarang bisa memberikan dampak ke depannya," ujar Rafika saat diwawncarai RRI pada Jumat 31 Juli 2026.
Ia menjelaskan, Divisi Database and Research bertugas mendokumentasikan jumlah relawan yang mengikuti kegiatan, jenis sampah yang berhasil dipilah, hingga hasil penimbangan setiap kategori sampah. Seluruh informasi tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi untuk melihat perkembangan kondisi lingkungan sekaligus menentukan langkah edukasi yang lebih efektif pada kegiatan berikutnya.
Rafika menyebut sampah botol plastik, sedotan, dan kemasan makanan masih menjadi jenis sampah yang paling banyak ditemukan selama aksi plogging. Menurutnya, rendahnya tingkat daur ulang plastik menjadi tantangan tersendiri karena proses pengolahannya membutuhkan tahapan yang panjang. "Tidak semua sampah plastik akhirnya didaur ulang karena prosesnya cukup rumit, sehingga kesadaran mengurangi penggunaannya menjadi sangat penting," katanya.
Leader WCD Aceh, Lutfi, menambahkan bahwa edukasi kepada masyarakat tidak cukup hanya melalui sosialisasi, tetapi juga harus dibarengi contoh nyata di lapangan. Karena itu, setiap kegiatan WCD Aceh selalu mengajak peserta membawa tumbler, wadah makan sendiri, serta melakukan pemilahan sampah sebelum disalurkan ke bank sampah agar memiliki nilai ekonomi dan tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). "Kita ingin masyarakat tahu bahwa sampah tidak selalu harus berakhir di TPA, tetapi masih bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat," ujarnya.
Menurut Lutfi, sejumlah hasil pengolahan sampah bahkan telah dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif seperti sofa berbahan botol plastik hingga gantungan kunci dari tutup botol dan plastik kresek. Upaya tersebut diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah bukan hanya limbah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Melalui keterlibatan generasi muda dan pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan, WCD Aceh optimistis budaya peduli lingkungan akan semakin tumbuh di tengah masyarakat. Komunitas tersebut berharap semakin banyak anak muda bergabung sebagai relawan sehingga gerakan pengurangan sampah dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan di Aceh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....