Love Bombing Dapat Menjadi Awal Terjadinya Relasi Toksik
- 01 Agt 2026 11:22 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh: Love bombing merupakan bentuk perhatian yang diberikan secara berlebihan kepada seseorang hingga membuat korban merasa sangat dicintai dan bergantung secara emosional. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku untuk membangun rasa memiliki yang berlebihan sebelum akhirnya mengendalikan atau menyakiti pasangannya. Hal tersebut disampaikan Esti Wulansari dalam dialog Obrolan Santai Islami (OSSI) Pro 2 RRI Banda Aceh.
"Sering kali orang-orang toksik ini menjerat korbannya dengan love bombing tadi," ujar Esti saat diwawancarai RRI pada Kamis 30 Juli 2026. Ia mengibaratkan cara tersebut seperti nelayan yang memberikan umpan sebelum menangkap ikan sehingga korban tidak menyadari sedang diarahkan masuk ke dalam hubungan yang tidak sehat.
Esti menjelaskan, hubungan yang belum memiliki ikatan resmi juga rentan menimbulkan keterikatan emosional yang berlebihan. Akibatnya, seseorang dapat merasa memiliki pasangannya sepenuhnya hingga menganggap dirinya berhak mengatur bahkan menyakiti orang yang dicintainya.
Menurutnya, Islam memberikan batasan dalam hubungan laki-laki dan perempuan sebagai bentuk perlindungan agar tidak muncul perilaku yang melampaui batas. "Makanya tadi sebenarnya Islam bagus sekali melarang ini untuk melindungi kita," katanya saat menjelaskan bahwa setiap aturan dalam Islam bertujuan menjaga kehormatan dan keselamatan manusia.
Meski demikian, Esti menegaskan bahwa relasi toksik tidak hanya dapat terjadi pada pasangan yang belum menikah, tetapi juga dalam rumah tangga. Ia mengingatkan bahwa korban kekerasan, baik fisik maupun psikis, tidak boleh merasa terjebak dan perlu memiliki keberanian untuk mencari pertolongan serta membangun kembali kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Esti berharap generasi muda lebih bijak dalam membangun hubungan dan tidak mudah terpengaruh oleh perhatian yang datang secara berlebihan dalam waktu singkat. Ia juga mengajak masyarakat untuk saling mendukung korban relasi toksik agar mampu bangkit, memulihkan diri, dan tidak terus hidup dalam ketakutan maupun rasa bersalah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....