Penyelesaian Jembatan Kuta Blang Mundur Sebulan, Ini Penyebabnya

  • 27 Jul 2026 21:35 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Penyelesaian pembangunan Jembatan Krueng Tingkeum atau Jembatan Kuta Blang di Kabupaten Bireuen mengalami penundaan sekitar satu bulan dari target semula. Jembatan yang putus diterjang banjir bandang pada November 2025 itu kini diproyeksikan rampung pada awal September 2026.

Kepala Posko Wilayah Aceh Satuan Tugas Pemulihan dan Rehabilitasi (Satgas PRR) Sumatra yang juga Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, mengatakan keterlambatan tersebut bukan disebabkan kendala teknis di lapangan, melainkan penyesuaian regulasi dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

"Pada waktu disurvei pada Maret lalu, penyelesaian Jembatan Krueng Tingkeum diproyeksikan selesai Juli. Namun, berdasarkan perkembangan terakhir, target penyelesaian bergeser menjadi awal September sehingga terjadi penundaan sekitar satu bulan," kata Safrizal.

Menurutnya, penundaan terjadi karena adanya penyesuaian mekanisme pekerjaan antara masa tanggap darurat dengan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Saat masa tanggap darurat, pekerjaan yang diperbolehkan adalah pembangunan bersifat semi permanen, sedangkan pembangunan permanen baru dapat dilaksanakan pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kepala Posko Wilayah Aceh Satuan Tugas Pemulihan dan Rehabilitasi (Satgas PRR) Sumatra yang juga Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA (Foto: RRI/Munzir)

Safrizal menjelaskan, proses tersebut sempat menunggu kepastian regulasi setelah diterbitkannya surat dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Kementerian Pekerjaan Umum kemudian melakukan penyesuaian agar pekerjaan permanen memiliki dasar hukum yang jelas.

"Karena adanya surat dari LKPP itu, pekerjaan sempat tertunda untuk mencari payung hukum bagi Kementerian Pekerjaan Umum agar pembangunan permanen bisa dilanjutkan. Setelah regulasinya disesuaikan, pekerjaan kembali berjalan," ujarnya.

Saat ini, ungkap Safrizal, progres pembangunan telah memasuki tahap pemasangan blok-blok konstruksi. Sementara itu, jembatan sementara (Beiley) yang selama ini digunakan masyarakat tetap dirawat agar akses transportasi tidak terputus hingga jembatan permanen selesai dibangun.

Safrizal menegaskan, tidak semua proyek rehabilitasi jembatan memiliki durasi pengerjaan yang sama. Menurutnya, tingkat kerusakan dan kompleksitas konstruksi menjadi faktor utama yang menentukan waktu penyelesaian.

"Ada jembatan yang dapat diselesaikan dalam enam bulan, ada yang satu tahun, bahkan ada yang membutuhkan waktu hingga tiga tahun karena tingkat kompleksitas konstruksinya," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....