Akademisi Minta Pemerintah Sediakan Creative Hub bagi Penyandang Disabilitas
- 06 Jul 2026 21:39 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh: Penyandang disabilitas di Aceh dinilai masih membutuhkan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan menampilkan hasil karya mereka kepada masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah didorong membangun wadah yang mampu menghubungkan pembinaan, pelatihan, hingga pemasaran produk agar penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama dalam berkarya dan mandiri secara ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Zulfikar Takqyudin bahwa kemampuan siswa penyandang disabilitas sebenarnya sangat besar, namun masih terkendala minimnya ruang aktualisasi setelah mereka menyelesaikan pendidikan di sekolah. Ia mengatakan pemerintah dapat mengambil peran lebih besar melalui pembentukan creative hub atau pusat pengembangan kreativitas khusus penyandang disabilitas.
"Saya pikir jika ada pemerintah yang mau membuat satu unit ataupun tempat untuk mereka berkembang, saya pikir luar biasa bagus dan untungnya mereka bekerja sangat fokus, hanya butuh kesabaran dari kita untuk mengembangkan produk ini menjadi produk yang lebih bagus lagi," ujar Zulfikar saat diwawancarai RRI dalam program Dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi, Minggu, 5 Juli 2026.
Menurutnya, wadah tersebut dapat menjadi tempat pelatihan, produksi, hingga promosi berbagai karya penyandang disabilitas yang selama ini belum memperoleh akses pasar secara optimal. Selain meningkatkan keterampilan, keberadaan pusat kreativitas juga diyakini mampu mempertemukan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif.
Zulfikar juga mengusulkan agar karya penyandang disabilitas dimanfaatkan sebagai cendera mata resmi yang diberikan kepada tamu pemerintah maupun wisatawan. "Kalau dikasih cenderamata yang dibuat oleh anak-anak istimewa ini mungkin ceritanya akan berbeda dan itu membuat mereka jadi lebih tertarik mendengar kenapa produk ini menjadi menarik," katanya.
Selain dukungan pemerintah, ia menilai keterlibatan perguruan tinggi, pelaku usaha, organisasi masyarakat, hingga mahasiswa menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Pendampingan yang konsisten akan membantu penyandang disabilitas meningkatkan kualitas karya, memanfaatkan teknologi digital, sekaligus memperluas jangkauan pemasaran melalui media sosial dan berbagai platform daring.
Zulfikar berharap kolaborasi yang telah dimulai tidak berhenti sebagai program pengabdian masyarakat semata, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif. Ia meyakini bahwa ketika pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat berjalan seiring, penyandang disabilitas tidak lagi dipandang sebagai kelompok yang memiliki keterbatasan, tetapi sebagai sumber kreativitas yang mampu menghasilkan karya bernilai, mengangkat budaya Aceh, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....