Tantangan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
- 09 Feb 2026 06:03 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus masih menghadapi berbagai tantangan di tingkat sekolah. Tantangan tersebut datang dari kesiapan guru, orang tua, hingga akses bagi anak itu sendiri.
Hal tersebut disampaikan Ketua IGPKhI sekaligus Ketua PD Solna dan Balee Inong Kota Banda Aceh, Hj. Jamilah, Sp., M.Pd. Ia menyampaikannya dalam Dialog Disabilitas RRI, Minggu, 8 Februari 2026.
Menurutnya, banyak guru di sekolah dasar merasa belum memiliki kemampuan mengajar anak berkebutuhan khusus. “Guru mengatakan belum belajar kurikulum dan belum pandai membuat perencanaan pembelajaran individual,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus bersifat individual dan membutuhkan kesiapan khusus. Karena itu, sekolah perlu membekali guru dengan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan.
Selain guru, tantangan juga datang dari orang tua anak berkebutuhan khusus. Sebagian orang tua masih ragu menyekolahkan anaknya di sekolah umum.
“Orang tua punya tantangan sendiri, kadang belum siap membawa anaknya ke sekolah inklusif,” katanya. Kondisi ini turut memengaruhi proses pemerataan pendidikan.
Hj. Jamilah menambahkan, anak berkebutuhan khusus juga menghadapi kendala akses fisik di sekolah. Hal ini terutama dirasakan anak pengguna kursi roda dengan keterbatasan mobilitas.
Ia menilai, sekolah harus benar-benar siap secara fasilitas dan lingkungan. Kesiapan tersebut menjadi syarat penting bagi terwujudnya pendidikan yang setara.
Terkait penerimaan teman sebaya, Hj. Jamilah menyebut kondisi saat ini jauh lebih baik. Sosialisasi pendidikan inklusif dinilai berhasil meningkatkan empati dan kebersamaan antar siswa.
“Sekarang teman-teman sudah mengerti dan saling membantu,” ujarnya. Ia mencontohkan praktik inklusif di salah satu sekolah dasar di Banda Aceh.
Ia menegaskan, peran guru dan orang tua sangat penting membangun pemahaman sejak dini. Anak perlu diyakinkan bahwa setiap teman adalah bagian dari komunitas sekolah.
Pendampingan dan pembelajaran bermakna harus terus diberikan kepada anak berkebutuhan khusus. Dengan cara itu, tidak ada lagi stigma, melainkan penerimaan dan kebersamaan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....