Aceh di Zona Ancaman Tinggi Gempa dan Tsunami
- 22 Okt 2025 13:25 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Wilayah Aceh termasuk dalam zona dengan tingkat ancaman gempa bumi dan tsunami tinggi di Indonesia. Letaknya yang berada di pertemuan dua sumber gempa utama — zona megathrust di laut dan patahan aktif di daratan — menjadikan Aceh rawan terhadap guncangan besar dan potensi tsunami.
Hal itu disampaikan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si., M.Si., saat memberi sambutan kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami Kota Banda Aceh Tahun 2025 di Aula Mawardi Nurdin, Balai Kota Banda Aceh, Rabu (22/10/2025).
Kegiatan yang digelar Stasiun Geofisika Aceh Besar itu menjadi bagian dari upaya nasional untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat melalui program Tsunami Ready Community (Masyarakat Siaga Tsunami).
Dr. Daryono menjelaskan, zona megathrust di lepas pantai barat Aceh merupakan titik tumbukan antara Lempeng Australia dan Lempeng Eurasia yang terus bergerak dan menimbulkan tekanan besar. Energi ini sewaktu-waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa besar dengan magnitudo hingga 9,2.
“Selain megathrust, Aceh juga memiliki dua patahan aktif utama — Sesar Aceh dan Sesar Seulimeum — yang dapat menghasilkan gempa darat dengan kekuatan sekitar 6,5 hingga 6,7. Kombinasi ini menjadikan Aceh sebagai wilayah yang sangat rawan gempabumi,” ujarnya.
Sejarah mencatat, Aceh telah beberapa kali diguncang gempa besar pada tahun 1861, 1886, 1907, 2004, 2005, dan 2012. Bahkan, penelitian geologi menemukan adanya jejak tsunami purba sekitar 1.100 tahun lalu, menandakan bahwa potensi bencana serupa tetap ada.
Daryono menekankan bahwa mitigasi gempa dan tsunami harus dimulai dari edukasi masyarakat serta penerapan struktur bangunan tahan gempa. “Gempa tidak membunuh manusia. Yang mematikan adalah bangunan yang tidak kuat. Karena itu, penerapan standar struktur tahan gempa wajib menjadi perhatian dalam pembangunan di Aceh. Bahkan rumah kayu yang fleksibel bisa menjadi alternatif lebih aman bila dibangun dengan benar,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pelatihan evakuasi vertikal dan horizontal, penyediaan jalur evakuasi yang jelas, serta keterlibatan semua unsur masyarakat dalam sistem peringatan dini. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya baru bagi masyarakat Aceh.
“Kita tidak bisa mencegah gempa, tetapi kita bisa mengurangi risikonya. Dengan pengetahuan, pelatihan, dan simulasi yang rutin, kita bisa mewujudkan Aceh tangguh bencana dan mencapai kondisi zero victim,” pungkasnya.
Kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami ini berlangsung selama satu hari dan mencakup sesi pembukaan, penyampaian materi, diskusi, serta Table Top Exercise (TTX) gladi simulasi ruang. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari perwakilan BPBD, kecamatan, desa, serta unsur masyarakat gampong. Melalui pelatihan ini, peserta dilatih memahami sistem peringatan dini, alur komunikasi darurat, serta langkah-langkah penyelamatan diri saat gempa dan tsunami terjadi. (*fa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....