Ekoenzim Solusi Mengurangi Pencemaran Sungai Aceh

  • 28 Jan 2025 00:43 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Keberadaan mikroplastik di sungai Aceh menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati. Meski kondisi sungai di Aceh belum memasuki kategori darurat, upaya pengelolaan sampah plastik tetap menjadi perhatian utama untuk mencegah pencemaran lebih lanjut.

Hal ini diungkapkan oleh DR. Rini Safitri, M.Si, Ketua Divisi Greenmetric Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Syiah Kuala, dalam wawancara bersama RRI.

“Mikroplastik yang masuk ke sungai bisa mencemari keanekaragaman hayati di sana. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah plastik akan terus menumpuk dan berkontribusi pada kerusakan lingkungan,” ujar DR. Rini.

Selain sampah plastik, penggunaan produk rumah tangga seperti sabun berbahan kimia juga menjadi penyumbang pencemaran sungai. Limbah dari produk tersebut sering kali sulit terurai, sehingga memperparah kondisi perairan.

DR. Rini mengusulkan penggunaan ekoenzim sebagai solusi untuk mengurangi dampak limbah rumah tangga terhadap lingkungan. Ekoenzim adalah cairan yang dihasilkan dari fermentasi limbah organik, seperti kulit buah, dengan gula. Cairan ini dapat digunakan sebagai disinfektan alami dan pembersih ramah lingkungan.

“Ekoenzim mampu membantu mengurangi pencemaran sungai karena terbuat dari bahan-bahan alami yang mudah terurai. Selain itu, pembuatan ekoenzim sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh masyarakat,” jelasnya.

Di Aceh, penggunaan ekoenzim masih terbatas. Namun, beberapa komunitas, seperti di Desa Prada, telah mulai memproduksi dan memanfaatkan ekoenzim. Universitas Syiah Kuala juga siap mendukung pelatihan pembuatan ekoenzim untuk memperluas penggunaannya di masyarakat.

Menurut DR. Rini, tantangan terbesar dalam mempromosikan ekoenzim adalah mengubah persepsi masyarakat tentang produk pembersih. “Kebanyakan orang merasa bahwa sabun yang berbusa banyak lebih efektif. Padahal, busa tersebut mengandung lemak dan bahan kimia yang sulit terurai, sehingga mencemari lingkungan,” paparnya.

Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kebersihan tidak selalu identik dengan penggunaan produk berbahan kimia.

Komitmen Pemerintah dan Harapan ke Depan

DR. Rini mengapresiasi komitmen pemerintah, mulai dari tingkat daerah hingga pusat, dalam mengatasi masalah lingkungan. Namun, ia menyoroti perlunya partisipasi aktif masyarakat untuk mencapai hasil yang optimal.

“Gerakan cinta lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Kita semua harus peduli, bukan hanya untuk kita saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....