Bulan Suci Ramadan Memperkuat Solidaritas Pengungsi Aceh
- 12 Mar 2026 10:58 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh : Semangat pengabdian dan kepedulian di bulan suci Ramadan tampak nyata dari para relawan tenaga kesehatan yang turun langsung membantu masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Hal itu disampaikan oleh Safina Salsabila, S.Kep., dan Luthfiya Azzuhra, relawan nakes dari Tim Reaksi Cepat Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (TRC GEN-A), dalam program siaran Cerita Kamu Pro 2 RRI Banda Aceh, Rabu 11 Maret 2026.
Safina Salsabila mengatakan dirinya mulai terlibat sebagai relawan sejak akhir November 2025, tak lama setelah bencana melanda wilayah tersebut. Ia mengaku pengalaman turun langsung ke lokasi pengungsian memberikan pelajaran berharga tentang kemanusiaan dan kepedulian.
“Bagi kami, ini pengalaman luar biasa. Bisa bertemu langsung dengan masyarakat yang sedang mengalami kesulitan dan membantu mereka adalah hal yang sangat kami syukuri. Apalagi melihat mereka masih bisa tersenyum di tengah kondisi bencana,” kata Safina.
Menurut Safina, tim relawan biasanya melakukan penggalangan donasi terlebih dahulu sebelum turun ke lokasi. Bantuan yang terkumpul kemudian disalurkan ke daerah yang dinilai paling membutuhkan setelah melalui proses survei lapangan.
Luthfiya Azzuhra menambahkan, kunjungan relawan pada awal Ramadan kali ini juga dilatarbelakangi oleh menurunnya jumlah bantuan yang datang ke wilayah terdampak. Padahal, hingga kini masih banyak warga yang tinggal di tenda pengungsian.
“Beberapa bulan setelah bencana, bantuan memang sudah tidak seramai di awal. Karena itu kami memutuskan untuk kembali turun agar masyarakat yang masih membutuhkan tetap mendapat dukungan,” ujarnya.
Dalam kunjungan ke Desa Durian, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, para relawan menyalurkan bantuan sembako serta membuka layanan kesehatan bagi warga. Mereka juga memberikan edukasi kesehatan dan membagikan masker kepada masyarakat.
Safina menjelaskan bahwa salah satu masalah kesehatan yang paling sering ditemui di lokasi pengungsian adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi ini dipicu oleh debu tebal dari lumpur yang mengering serta cuaca panas di kawasan tersebut.
“Debunya sangat tebal karena sisa lumpur yang sudah kering. Banyak warga yang mengalami gangguan pernapasan, mulai dari anak-anak hingga lansia,” jelasnya.
Selain itu, relawan juga menemukan sejumlah kasus penyakit kulit akibat kualitas air yang kurang bersih pascabencana. Untuk mengatasi hal tersebut, relawan memberikan pengobatan dasar serta edukasi tentang pencegahan penyakit.
Di tengah berbagai keterbatasan, para relawan justru menyaksikan kuatnya solidaritas antarwarga di pengungsian. Luthfiya mengatakan masyarakat saling membantu dan memastikan bantuan dibagikan secara adil.
“Kalau kami membawa bantuan, mereka bahkan mengingatkan bahwa di tenda lain ada warga yang juga membutuhkan. Jadi kepedulian antar mereka sangat kuat,” katanya.
Pengalaman lain yang membekas bagi para relawan adalah semangat warga dalam menjalankan ibadah puasa meskipun tinggal di tenda dengan kondisi yang serba terbatas.
“Mereka tetap berpuasa. Bahkan saat berobat, mereka bertanya bagaimana cara minum obat agar tidak membatalkan puasa. Itu menunjukkan keteguhan dan keimanan mereka,” ujar Safina.
Bagi kedua relawan tersebut, pengabdian di posko pengungsian bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi juga tentang belajar dari ketabahan masyarakat yang terdampak bencana.
“Dari mereka kami belajar tentang rasa syukur dan ketabahan. Dalam kondisi yang sangat sulit pun mereka masih bisa tersenyum dan saling menguatkan,” kata Luthfiya.
Melalui kegiatan ini, para relawan berharap kepedulian masyarakat terhadap korban bencana tetap terjaga, sehingga proses pemulihan kehidupan warga Aceh Tamiang dapat berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan.