Puasa Ridha Lebih Utama Daripada Puasa Terpaksa

  • 10 Mar 2026 15:33 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh, Tgk. Wahyu Mimbar, S.Pd.I., M.Ag., mengingatkan masyarakat agar menjalankan ibadah puasa dengan penuh kerelaan hati, bukan sekadar karena keterpaksaan. Hal tersebut disampaikan dalam program siaran budaya Informasi Budaya, Obrolan dan Hiburan (Siereuboh)” di Radio Republik Indonesia RRI Banda Aceh Programa 4 pada Selasa (10/3/2026).

Dalam dialog tersebut, Wahyu Mimbar menjelaskan bahwa puasa tidak hanya bermakna menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan ibadah yang menuntut keikhlasan serta kesadaran spiritual. Menurutnya, kualitas puasa seseorang sangat dipengaruhi oleh niat yang melandasinya.

“Puasa yang dilakukan dengan ridha atau kerelaan hati akan memberikan dampak spiritual yang jauh lebih besar dibandingkan puasa yang dijalankan karena terpaksa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keterpaksaan dalam berpuasa dapat muncul karena berbagai faktor, seperti tekanan lingkungan, kebiasaan sosial, atau sekadar mengikuti tradisi. Meski secara hukum ibadah tersebut tetap sah jika memenuhi syarat dan rukun, nilai spiritualnya dapat berkurang apabila tidak disertai kesadaran dan keikhlasan.

Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh, Tgk. Wahyu Mimbar, S.Pd.I., M.Ag., mengingatkan masyarakat agar menjalankan ibadah puasa dengan penuh kerelaan hati, Hal tersebut disampaikan dalam program siaran budaya Informasi Budaya, Obrolan dan Hiburan (Siereuboh)” di Radio Republik Indonesia RRI Banda Aceh Programa 4 pada Selasa (10/3). Foto : RRI/Lis

Menurut Wahyu Mimbar, momentum bulan Ramadan seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas ibadah. Ramadan, katanya, merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk melatih pengendalian diri sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan puasa sebagai proses pendidikan moral dan spiritual. Dengan memahami makna puasa secara mendalam, seseorang tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga memperoleh pembentukan karakter seperti kesabaran, empati, dan kedisiplinan.

Melalui siaran tersebut, Wahyu Mimbar berharap masyarakat dapat menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi diri. Ia menekankan bahwa keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari kemampuan menahan lapar dan dahaga, melainkan dari perubahan sikap dan kualitas keimanan setelah menjalankannya.

Program “Siereuboh” di RRI Banda Aceh Programa 4 sendiri merupakan salah satu ruang dialog budaya dan keagamaan yang menghadirkan berbagai tokoh masyarakat untuk berbagi pandangan serta nilai-nilai edukatif kepada publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....