Empat Kesucian dalam Ibadah Puasa

  • 07 Mar 2026 16:09 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Ibadah puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai upaya menyucikan diri lahir dan batin. Kesucian tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas ibadah seorang muslim.

Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Kota Banda Aceh, Murhaban Nafi, menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat beberapa tingkatan kesucian yang harus diperhatikan oleh setiap hamba Allah. Hal tersebut disampaikan dalam dialog Mutiara Ramadan di Radio Republik Indonesia Pro 4 Banda Aceh, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, kesucian pertama berkaitan dengan kebersihan lahir seperti suci dari hadas besar, hadas kecil, serta najis yang tidak dimaafkan. Kesucian ini menjadi syarat dasar dalam melaksanakan ibadah seperti salat dan membaca Al-Qur’an.

“Yang pertama adalah kesucian dari hadas besar, hadas kecil, dan najis. Ini menjadi syarat awal sebelum seseorang melaksanakan ibadah,” ujar Murhaban.

Ia menjelaskan bahwa tingkat kesucian kedua adalah membersihkan diri dari dosa melalui berbagai amal ibadah. Puasa, salat, dan amalan lainnya menjadi sarana untuk menyucikan diri dari kesalahan yang pernah dilakukan.

“Kesucian badan dari dosa dapat dilakukan dengan amal ibadah seperti puasa, salat, dan berbagai kebaikan lainnya,” katanya.

Kesucian ketiga berkaitan dengan membersihkan perangai yang tidak diridai Allah. Sifat-sifat buruk seperti sombong, riya, dan ujub harus dihindari agar ibadah memiliki nilai di sisi Allah.

Murhaban menegaskan bahwa sifat ujub atau merasa bangga dengan ibadah sendiri dapat menghilangkan pahala. Meski ibadah secara lahir tetap sah, namun nilai pahala bisa hilang jika hati tidak bersih.

“Secara lahir ibadahnya sah, tetapi pahala bisa batal karena ujub atau riya yang ada di dalam hati,” jelasnya.

Sementara itu, kesucian keempat adalah kesucian hati yang selalu mengingat Allah. Hati yang lalai dari mengingat Allah dinilai sebagai hati yang belum sepenuhnya suci.

Ia menambahkan bahwa menjaga kesucian hati menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritual seorang muslim. Hati yang bersih akan mendorong seseorang untuk terus beribadah dengan ikhlas.

“Kesucian hati adalah ketika seorang hamba selalu ingat kepada Allah dan tidak lalai dari mengingat-Nya,” ujarnya.

Murhaban berharap umat Islam dapat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri. Dengan menjaga kesucian lahir dan batin, diharapkan ibadah yang dilakukan dapat lebih bermakna dan diterima oleh Allah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....