Puasa Menuju Takwa, Tidak Hanya Menahan Lapar
- 07 Mar 2026 09:05 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Puasa Ramadan tidak hanya bermakna menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana pengendalian diri yang dapat mengantarkan seseorang mencapai derajat takwa.
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Dr. Yuni Roslaili, MA, mengatakan Al-Qur’an telah menegaskan tujuan utama puasa sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yaitu agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa.
Menurutnya, panggilan “Ya Ayyuhalladzina Amanu” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa puasa ditujukan kepada orang-orang beriman, karena ibadah ini menuntut kemampuan mengendalikan hawa nafsu yang hanya bisa dijalani dengan kekuatan iman.
“Puasa itu diwajibkan agar manusia bisa mencapai derajat takwa. Namun derajat itu tidak dicapai hanya dengan menahan lapar dan haus saja,” kata Yuni dalam Dialog Kajian Islami RRI Banda Aceh, Jumat 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan, ulama besar Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin membagi puasa ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah saumul umum, yaitu puasa yang hanya menahan makan, minum, dan hubungan suami istri pada siang hari.
Pada tingkatan ini, seseorang memang telah memenuhi kewajiban puasa secara syariat, tetapi nilai spiritualnya masih paling rendah karena fokusnya hanya pada aspek fisik.
Tingkatan kedua adalah saumul khusus, yaitu puasa yang disertai dengan menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dalam tahap ini seseorang mulai menjaga lisan, pandangan, pendengaran, serta perilaku dari hal-hal yang dapat merusak nilai ibadah.
“Tahap ini sudah mulai masuk pada dimensi rohani. Tidak hanya menahan lapar, tapi juga menjaga mata, telinga, lidah, dan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak baik,” ujarnya.
Sementara tingkatan tertinggi adalah saum khususul khusus, yaitu puasa yang menjaga hati dari pikiran-pikiran dunia yang dapat menjauhkan seseorang dari Allah.
Pada tahap ini, seseorang memfokuskan hati dan pikirannya untuk mengingat Allah serta menjaga agar hatinya tidak dipenuhi kepentingan dunia yang berlebihan.
Menurut Yuni, puasa pada tingkat ketiga inilah yang paling potensial mengantarkan seseorang mencapai derajat takwa.
“Jika puasa sudah sampai pada tahap menjaga hati, maka itulah puasa yang sangat kuat pengaruhnya untuk membentuk ketakwaan,” katanya.
Ia menambahkan, orang yang mencapai derajat takwa akan mendapatkan berbagai keutamaan, salah satunya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang bertakwa dan memberikan jalan keluar dari berbagai persoalan hidup.
Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi momentum bagi setiap muslim untuk meningkatkan kualitas puasa dari tahun ke tahun agar tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga membentuk karakter spiritual yang lebih baik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....