Ramadan Produktif Membentuk Generasi Muda Taat Bermanfaat

  • 04 Mar 2026 15:32 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh: Semangat menjalani Ramadan secara aktif dan bermakna menjadi pokok bahasan dalam program “Tauladan (Tanya Jawab di Bulan Ramadan)” yang disiarkan oleh RRI Pro 2 Banda Aceh pada Selasa (3/3/2026). Mengangkat tema Ramadan Produktif; Muda, Taat, dan Bermanfaat, dialog ini menghadirkan narasumber Dr. Muhammad Rizki, S.Pd.I., M.Pd., Ketua III DPW BKPRMI Aceh.

Dalam perbincangan yang berlangsung hangat, Dr. Muhammad Rizki menegaskan bahwa Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan. “Semua aktivitas di bulan Ramadan bernilai ibadah, sejak sahur hingga berbuka. Namun, jangan keliru memaknai ibadah dengan hanya tidur sepanjang hari,” ujarnya.

Menurutnya, produktivitas dalam Islam tidak semata-mata diukur dari capaian materi, melainkan dari nilai ibadah dan pahala yang menyertainya. Ia mengajak umat Islam, khususnya generasi muda, untuk menetapkan target selama Ramadan, seperti membaca Al-Qur’an satu juz per hari atau memperbanyak sedekah dan kegiatan sosial.

“Di bulan Ramadan, pahala dilipatgandakan. Maka, produktif berarti memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kualitas keimanan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya manajemen waktu. Aktivitas bekerja, kuliah, atau sekolah tetap dapat berjalan selaras dengan ibadah apabila diniatkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. “Mencari nafkah adalah bagian dari ibadah. Yang terpenting adalah niat dan kedisiplinan menjaga waktu salat,” jelasnya.

Fenomena semangat yang menggebu di awal Ramadan namun menurun di pertengahan bulan turut menjadi sorotan. Dr. Rizki menyebut hal tersebut sebagai tantangan konsistensi (istikamah) yang wajar dialami manusia. Untuk mengatasinya, ia menyarankan pembuatan jadwal ibadah dan evaluasi harian.

“Iman bisa naik dan turun. Karena itu, perlu lingkungan yang saling mengingatkan dan mendukung,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kebiasaan begadang tanpa tujuan yang jelas sebagai salah satu penyebab menurunnya produktivitas. Kurang istirahat, menurutnya, berdampak pada semangat beribadah dan aktivitas esok hari.

Ramadan, lanjutnya, kerap menjadi momentum introspeksi dan perubahan diri. Banyak orang yang mulai mendekat ke masjid dan memperbaiki diri pada bulan suci ini. Meski demikian, ia mengingatkan agar perubahan tidak bersifat musiman.

“Seburuk apa pun seseorang, jangan pernah meninggalkan salat. Salat adalah bukti penghambaan kita kepada Allah,” tegasnya.

Ia mendorong langkah-langkah kecil namun konsisten sebagai awal perubahan, seperti mengajak teman terdekat untuk salat berjamaah atau terlibat dalam kegiatan remaja masjid. Pendekatan bertahap dinilai lebih efektif dibanding perubahan drastis yang sulit dipertahankan.

Dalam menjawab pertanyaan pendengar, Dr. Rizki menekankan bahwa produktivitas Ramadan harus berdampak pada kehidupan dunia dan akhirat sekaligus. Membantu korban bencana, membangun komunitas sosial, atau menggalang donasi merupakan contoh amal yang bernilai ganda.

“Kita hidup di dunia untuk menanam, dan hasilnya akan kita tuai di akhirat,” katanya.

ia mengibaratkan kehidupan manusia seperti buah kelapa yang dapat jatuh kapan saja—muda ataupun tua. Karena itu, setiap orang diminta mempersiapkan diri sebaik mungkin.

“Umur tidak ada yang tahu. Maka, selama masih muda dan diberi kesempatan, jadilah pribadi yang taat dan bermanfaat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....