Anak Bukan Miniatur Orang Dewasa

  • 03 Mar 2026 06:59 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Momentum Ramadan dinilai sebagai waktu yang tepat bagi orang tua untuk memperkuat pendidikan ibadah anak melalui keteladanan. Hal itu disampaikan dr. Teuku Andi Syahputra, M.K.M dalam program Tauladan: Tanya Jawab di Bulan Ramadan di RRI Pro 2 Banda Aceh, Senin 23 Februari 2026.

Menurutnya, anak bukan hanya belajar dari perintah, tetapi dari contoh nyata yang mereka lihat setiap hari di rumah. “Terkait dengan keteladanan itu artinya contoh. Apa yang kita lakukan hari ini harusnya menjadi contoh bagi generasi selanjutnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga ruang pendidikan karakter dalam keluarga. Orang tua, kata dia, harus menyadari bahwa perilaku sehari-hari akan direkam dan ditiru anak, baik dalam hal ibadah maupun sikap.

“Anak itu bukan miniatur orang dewasa. Jadi kita tidak bisa mengajarinya seperti kita mengajari orang dewasa. Harus melihat kesiapan fisik, mental, dan tumbuh kembangnya,” jelas dr. Andi.

Ia mencontohkan, dalam praktik puasa anak, orang tua tidak bisa menyamaratakan kemampuan setiap anak. Kesiapan berpuasa harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tanpa paksaan berlebihan.

Selain itu, dr. Andi mengingatkan pentingnya konsistensi antara ayah dan ibu dalam pola asuh. Perbedaan sikap yang terlalu kontras dapat membingungkan anak. “Kalau satu menyuruh puasa tapi yang lain memberi contoh sebaliknya, itu jadi ambigu bagi anak,” katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya ekosistem pendidikan anak, mulai dari keluarga inti hingga lingkungan pergaulan. Menurutnya, pendidikan tidak hanya dipengaruhi orang tua, tetapi juga teman, sekolah, dan lingkungan sosial.

“Tidak ada anak yang salah. Yang salah adalah lingkungannya. Makanya kita harus menciptakan lingkungan yang baik agar anak menyesuaikan diri dengan pola yang positif,” tegasnya.

Terkait reward and punishment, dr. Andi menilai pendekatan tersebut tetap diperlukan selama dimaknai sebagai pendidikan tanggung jawab, bukan sekadar hukuman. “Hukuman itu konsekuensi. Anak harus belajar bahwa setiap tindakan ada risikonya,” ujarnya.

Ia berharap para orang tua, khususnya generasi muda yang kelak menjadi ayah dan ibu, mulai mempersiapkan diri sejak sekarang. “Kita tidak selalu muda. Investasikan diri secara biologis, psikologis, dan sosial agar nanti bisa menjadi teladan terbaik bagi anak-anak kita,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....