Puasa Harus Mengantar Umat ke Derajat Muttaqin
- 28 Feb 2026 18:01 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Pelaksana Harian Kepala UPTD Pengelolaan Masjid Raya, Tgk. Iskandar, menegaskan bahwa ibadah puasa sejatinya bertujuan mengantarkan umat Islam mencapai derajat muttaqin, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an.
Hal itu disampaikan Tgk. Iskandar dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 4, 21 Februari 2026 Dalam pemaparannya, ia mengangkat tema tentang perjalanan spiritual menuju makam takwa, yakni tingkatan ketakwaan yang diharapkan Allah SWT bagi hamba-Nya.
Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebutkan “la‘allakum tattaqun” — agar kamu menjadi orang yang bertakwa. Menurutnya, takwa bukan sekadar menjalankan ibadah secara lahiriah, melainkan penghambaan yang dilakukan secara utuh, melibatkan jasmani dan batin.
“Orang yang muttaqin itu bukan hanya menunaikan ibadah secara fisik, tetapi ibadahnya sampai ke roh dan jiwanya. Ia melakukan perintah Allah dengan dorongan iman yang kuat dari dalam hati,” ujarnya.
Tgk. Iskandar menjelaskan, dalam kajian bahasa Arab, kata takwa memiliki makna luas, di antaranya takut kepada Allah serta menjaga dan memelihara diri dari hal-hal yang dilarang-Nya. Seseorang yang mencapai derajat muttaqin, kata dia, adalah hamba yang memiliki keikhlasan dan sifat ihsan dalam setiap amalnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa derajat muttaqin terbagi dalam beberapa tingkatan. Pada tingkat awam, seorang muttaqin menjaga dirinya dari perbuatan syirik dan segala bentuk kemusyrikan dalam kehidupan sehari-hari.
| Baca juga: Ramadan Bukti Perjalanan menuju Muttaqin |
Sementara pada tingkat pertengahan, seseorang tidak hanya menjalankan perintah Allah, tetapi juga berupaya menjauhi segala larangan-Nya, termasuk dosa-dosa kecil. “Mereka berusaha agar tidak terjerumus, dan jika pun melakukan kesalahan kecil, tidak ada niat untuk terus-menerus melakukannya,” jelasnya.
Adapun pada tingkat tertinggi atau khawasul khawas, muttaqin adalah mereka yang tidak hanya meninggalkan dosa besar dan kecil, tetapi juga menjauhi segala sesuatu yang sia-sia. Tingkatan ini disebutnya sebagai makam takwa yang paling sempurna.
Ia berharap umat Islam, khususnya dalam momentum ibadah puasa, tidak hanya berfokus pada kewajiban menahan lapar dan dahaga, melainkan menjadikannya sarana pembinaan diri menuju ketakwaan yang hakiki.
“Puasa itu latihan menuju muttaqin. Ketika ibadah dilakukan dengan kesadaran iman dan keikhlasan, maka di situlah seseorang layak disebut sebagai hamba yang bertakwa,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....