Hadis Prasangka Baik Jadi Fondasi Kesehatan Mental

  • 28 Feb 2026 13:53 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Konsep berpikir positif dan keyakinan terhadap hasil baik sering kali populer melalui teori Barat seperti law of attraction. Namun dalam Islam, prinsip tersebut sejatinya telah lama diajarkan melalui hadis qudsi tentang prasangka kepada Allah. Hal ini disampaikan oleh Ika Puspita Yuda, Biro Muslimah DDI Banda Aceh, dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 2 Banda Aceh, Jumat 27 Februari 2026 yang membahas implementasi hadis “Aku sesuai prasangka hamba-Ku”.

Menurut Ika, banyak orang mengenal gagasan “energi positif menarik hal positif” dari buku-buku motivasi luar negeri. Padahal, ajaran Islam lebih dahulu menekankan pentingnya husnuzan atau berprasangka baik kepada Allah. “Sering kita kagum dengan teori Barat, padahal Al-Qur’an dan hadis sudah mengajarkan bahwa apa yang kita pikirkan dan yakini sangat memengaruhi hidup kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, prasangka baik bukan sekadar sugesti, melainkan bentuk keimanan. Ketika seseorang meyakini kebaikan dari Allah, maka ia akan bertindak, berbicara, dan berusaha ke arah yang positif. Sebaliknya, pikiran negatif justru memicu kecemasan, ragu, dan ketakutan yang bisa menghambat diri sendiri. Karena itu, Islam menganjurkan berkata baik atau diam sebagai wujud menjaga energi dan sikap hati.

“Allah berfirman dalam hadis qudsi, ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku.’ Artinya, kalau kita yakin Allah menolong, Allah mudahkan. Kalau kita terus curiga dan pesimis, hidup terasa berat,” kata Ika. Ia menilai, banyak kejadian sehari-hari berawal dari pikiran, termasuk rasa khawatir berlebihan yang akhirnya benar-benar terjadi.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa membangun prasangka baik perlu proses bertahap. Tidak realistis jika seseorang langsung membayangkan keberhasilan besar tanpa usaha. Namun, keyakinan kecil yang konsisten seperti ingin hidup lebih tenang, finansial lebih stabil, atau karier lebih baik dapat menjadi langkah awal perubahan. “Pelan-pelan, sesuai kemampuan, tapi tetap yakin Allah akan bantu,” tambahnya.

Dalam perspektif Islam, lanjut Ika, seluruh makhluk ciptaan Allah bertasbih dan tunduk pada kehendak-Nya. Ketika manusia rida terhadap takdir dan berusaha dengan pikiran positif, maka hidup terasa lebih selaras. “Saat hati kita menerima kehendak Allah, semesta seperti ikut mendukung. Kita jadi lebih mudah melihat peluang dan solusi,” jelasnya.

Melalui pesan tersebut, ia berharap generasi muda tidak hanya terpaku pada konsep motivasi populer, tetapi kembali menggali nilai-nilai spiritual dalam agama. Dengan husnuzan, usaha, dan doa, seseorang dapat membangun kehidupan yang lebih optimistis dan bermakna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....