Meluruskan Mindset Puasa untuk Kendalikan Emosi dan Nafsu
- 28 Feb 2026 13:45 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh - Puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana melatih pengendalian diri, terutama dalam mengelola emosi dan hawa nafsu. Namun dalam praktiknya, masih banyak orang yang berpuasa tetapi belum mampu menahan diri dari perilaku negatif seperti bergibah, berkata kasar, hingga membuat keributan. Fenomena ini bahkan kerap terlihat di lingkungan sekolah, termasuk pada anak usia sekolah dasar.
Esti Wulansari, Pengajar di Aceh Flexi School, dalam dialog interaktif bersama RRI Pro 2 Banda Aceh, Kamis 26 Februari 2026 mengtakan puasa seharusnya dimaknai lebih dari sekadar kewajiban ritual. Ia menekankan bahwa inti puasa adalah pengendalian diri secara menyeluruh. “Menahan diri itu bukan cuma dari makan dan minum, tapi juga dari hawa nafsu yang lain, termasuk gibah. Di hari biasa saja gibah tidak boleh, apalagi saat puasa karena bisa mengurangi pahala,” ujarnya.
| Baca juga: Kemenag Aceh Besar Santuni Anak Yatim |
Esti menjelaskan, salah satu penyebab perilaku tersebut adalah mindset berpuasa yang belum tepat. Banyak orang menjalankan puasa hanya sebagai formalitas kewajiban, tanpa memahami maknanya. Padahal, puasa seharusnya menjadi momen peningkatan kualitas diri dan keimanan. Jika tidak disertai kesadaran batin, puasa hanya menghasilkan lapar dan haus tanpa nilai pahala yang maksimal.
Ia juga menyoroti fenomena sebagian orang yang berpuasa tetapi meninggalkan kewajiban lain, seperti salat. Menurutnya, hal itu sangat disayangkan. “Apa fungsinya kita menahan lapar dan haus kalau kewajiban lainnya ditinggalkan? Nanti kita cuma dapat lapar dan haus saja, pahalanya nol. Itu sayang sekali,” kata Esti.
| Baca juga: Puasa Efektif Jika Bisa Menjaga Hawa Nafsu |
Lebih lanjut, Esti menekankan pentingnya meluruskan niat sebelum berpuasa. Niat yang ikhlas karena Allah akan memengaruhi cara seseorang menjalankan puasanya. Ketika niat sudah benar, ibadah pun terasa lebih ringan dan dijalani dengan kesadaran penuh, bukan keterpaksaan.
Ia juga menanggapi anggapan bahwa puasa adalah beban, seperti keluhan sahur mengganggu waktu tidur atau terlalu banyak pantangan. Menurutnya, persepsi tersebut perlu diubah. “Jangan melabeli puasa sebagai beban. Kalau fokusnya pada rasa lapar dan haus, ya itu yang terasa. Coba ubah cara pandang bahwa puasa adalah ruang istirahat bagi tubuh dan ruang tumbuh bagi jiwa,” jelasnya.
Bagi Esti, puasa ibarat proses revisi diri. Tubuh diberi waktu jeda, sementara jiwa ditempa agar lebih sabar, disiplin, dan empatik. Dengan mindset yang tepat, puasa bukan lagi sekadar kewajiban tahunan, melainkan investasi spiritual untuk membentuk pribadi yang lebih baik, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....