Karies Gigi Masih Jadi Masalah Kesehatan Anak

  • 30 Sep 2026 22:26 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Masalah gigi berlubang masih banyak ditemukan pada anak sekolah di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat 41 persen anak yang diperiksa melalui Cek Kesehatan Gratis mengalami karies.

Temuan tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono saat Kick-off Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di SDN Menteng 01, Jakarta, Kamis, 17 September 2026.

Dilansir dari website kemkes.go.id, pemeriksaan gigi menjadi salah satu prioritas dalam program Cek Kesehatan Gratis. Kemenkes mendorong pemeriksaan rutin untuk menemukan masalah gigi sejak dini.

Masalah karies tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi persoalan kesehatan masyarakat secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut karies sebagai penyakit tidak menular paling umum di dunia.

WHO memperkirakan sekitar dua miliar orang mengalami karies pada gigi permanen. Sementara itu, sekitar 510 juta anak mengalami karies pada gigi susu.

Karies terjadi ketika plak pada permukaan gigi mengubah gula bebas dari makanan dan minuman menjadi asam. Asam tersebut kemudian dapat merusak gigi secara bertahap dan menyebabkan terbentuknya lubang.

WHO menyebut konsumsi gula bebas menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya karies. Karena itu, pembatasan konsumsi gula menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kerusakan gigi.

WHO merekomendasikan konsumsi gula bebas kurang dari sepuluh persen total asupan energi harian. Jumlah tersebut idealnya ditekan hingga kurang dari lima persen untuk menekan risiko karies sepanjang kehidupan.

Selain konsumsi gula, paparan fluoride yang tidak memadai juga dapat meningkatkan risiko karies. WHO juga menekankan pentingnya membersihkan plak dengan menyikat gigi menggunakan pasta gigi berfluoride.

Upaya menjaga kesehatan gigi juga perlu dilakukan sejak anak-anak karena karies dapat menimbulkan rasa sakit. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas, termasuk makan dan tidur, jika tidak ditangani.

Pada Maret 2026, WHO menerbitkan pedoman perawatan karies yang menekankan pencegahan dan penanganan dengan intervensi minimal. Pedoman tersebut juga mendorong penggunaan bahan perawatan gigi tanpa merkuri serta layanan yang lebih terjangkau.

Di Indonesia, Kemenkes mendorong sekolah berperan dalam membangun kebiasaan menjaga kesehatan gigi. Edukasi dapat mencakup cara menyikat gigi, pemilihan makanan, serta penggunaan pasta gigi berfluoride.

Pemeriksaan secara rutin juga diperlukan untuk menemukan masalah gigi sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Kebiasaan tersebut dapat dibangun sejak usia sekolah melalui lingkungan keluarga dan sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....