Begini Cara Melindungi Diri dari Bahaya Paparan Abu Vulkanik
- 08 Sep 2026 13:38 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Banda Aceh — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengingatkan masyarakat terhadap bahaya paparan abu vulkanik. Material hasil erupsi tidak hanya berdampak di sekitar gunung, tetapi dapat terbawa angin ke wilayah yang lebih jauh.
Dalam erupsi yang berlangsung sejak Jumat 4 September 2026, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau mencapai sejumlah wilayah di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu. Arah dan jarak sebaran abu dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengingatkan masyarakat bahwa abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Partikel yang sangat halus dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata dan kulit.
Kementerian Kesehatan menyebut partikel halus dalam abu vulkanik, termasuk PM2,5, dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan serta gangguan kardiopulmonal. Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma dan penyakit paru, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Bahaya Paparan Abu Vulkanik
Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan. Dalam jangka pendek, masyarakat dapat mengalami batuk, tenggorokan terasa mengganjal, sesak atau gangguan pernapasan, serta iritasi pada mata dan kulit.
Risiko dapat meningkat apabila seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama atau menghirup abu secara langsung. Bagi masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma atau penyakit paru kronis, paparan abu dapat memperburuk kondisi kesehatan.
Kementerian Kesehatan juga mencatat kecenderungan peningkatan kasus ISPA di sejumlah wilayah terdampak erupsi Anak Krakatau, terutama Banten, Lampung dan Jawa Barat.
Cara Mencegah Paparan
Untuk mengurangi risiko kesehatan, masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik disarankan:
- Gunakan masker ketika harus berada di luar ruangan. Masker yang memiliki kemampuan filtrasi lebih baik lebih dianjurkan dibandingkan masker kain biasa.
- Kurangi aktivitas di luar rumah, terutama saat abu vulkanik sedang turun atau kualitas udara memburuk.
- Tutup pintu, jendela dan ventilasi rumah agar abu tidak mudah masuk.
- Lindungi mata dari paparan abu, terutama ketika berada di luar ruangan.
- Hindari aktivitas yang membuat abu beterbangan, termasuk menyapu abu dalam kondisi kering.
- Basahi abu terlebih dahulu sebelum membersihkannya agar partikel tidak kembali beterbangan dan terhirup.
- Tutup makanan dan sumber air agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma dan penyakit paru sebaiknya lebih banyak berada di dalam ruangan selama kondisi udara terdampak abu.
Jika Terlanjur Terpapar Abu Vulkanik
Apabila terpapar abu vulkanik, segera tinggalkan area yang banyak mengandung abu dan masuk ke ruangan yang lebih bersih.
Jika abu mengenai mata, hindari mengucek mata. Bersihkan secara perlahan dengan air bersih. Sementara jika abu menempel pada kulit, segera bersihkan dengan air.
Pakaian yang terkena abu juga sebaiknya dilepas dan dibersihkan untuk mengurangi paparan lanjutan.
| Baca juga: Manfaat Talas untuk Kesehatan |
Apabila setelah terpapar muncul batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, atau iritasi mata yang semakin parah, masyarakat dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Abu Vulkanik Dapat Menyebar Jauh
Peristiwa erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa dampak abu vulkanik tidak selalu terbatas di sekitar gunung api. Badan Geologi menyebut arah dan jangkauan sebaran abu dipengaruhi antara lain oleh arah serta kecepatan angin, tinggi kolom erupsi, durasi erupsi dan jumlah material yang dikeluarkan.
BNPB melaporkan wilayah terdampak langsung di Lampung dan Banten mencakup tiga kabupaten dan 15 kecamatan. Sementara itu, wilayah DKI Jakarta, Banten dan Lampung juga mengalami paparan abu vulkanik.
Karena kondisi sebaran abu dapat berubah dengan cepat, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan kondisi visual di sekitar tempat tinggal. Informasi mengenai perkembangan erupsi dan kualitas udara sebaiknya mengikuti sumber resmi pemerintah, seperti PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD dan dinas kesehatan.
Yang terpenting, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan, mengurangi paparan abu dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....