Sindrom Metabolik Mengintai di balik Gaya Hidup

  • 31 Agt 2026 16:18 WIB
  •  Banda Aceh

RRI. CO. ID, Banda Aceh – Gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik dan diikuti pola konsumsi tinggi gula, karbohidrat, serta lemak dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam program siaran Klinik Angkasa Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026), bersama dokter spesialis penyakit dalam dr. Ulva Yogia Guslaf, Sp.PD, dengan tema “Sindrom Metabolik: Bom Waktu di Balik Gaya Hidup Modern.”

dr. Ulva menjelaskan, sindrom metabolik bukanlah satu penyakit, melainkan kumpulan sejumlah kondisi yang saling berkaitan. Lima komponen utamanya meliputi obesitas sentral atau lingkar perut berlebih, tekanan darah meningkat, kadar trigliserida tinggi, kadar HDL atau kolesterol baik rendah, serta gula darah puasa yang meningkat. Pada kelompok etnis Asia, lingkar perut mulai menjadi perhatian ketika mencapai lebih dari 90 sentimeter pada pria dan 80 sentimeter pada wanita. Seseorang dapat dikategorikan mengalami sindrom metabolik apabila sedikitnya tiga dari lima kriteria tersebut terpenuhi.

Menurut dr. Ulva, sindrom metabolik kerap disebut sebagai “bom waktu” karena proses kerusakan di dalam tubuh dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas selama bertahun-tahun. Resistensi insulin menjadi salah satu akar masalah yang dapat berkembang menjadi diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan lemak darah, hingga kerusakan pembuluh darah. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko penyakit serius seperti stroke, serangan jantung, dan gangguan ginjal. Bahkan, seseorang yang terlihat kurus tetap dapat memiliki risiko melalui penumpukan lemak viseral atau kondisi “thin outside, fat inside”.

dr. Ulva Yogia Guslaf, Sp.PD, saat menjadi narasumber dalam program siaran Klinik Angkasa Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (29/8). Foto : RRI/Lis

Ia menilai perubahan gaya hidup menjadi langkah penting untuk mencegah sindrom metabolik. Masyarakat dianjurkan mengurangi kebiasaan sedentari, membatasi asupan makanan tinggi gula, karbohidrat, lemak, dan garam, serta menjaga aktivitas fisik. Aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang setidaknya 150 menit per minggu, atau sekitar 30 menit selama lima hari, dapat menjadi salah satu upaya menjaga kesehatan metabolik. Selain itu, pengelolaan stres dan pola tidur yang cukup juga diperlukan karena keduanya berkaitan dengan keseimbangan hormon dan metabolisme tubuh.

dr. Ulva juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya keluhan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Skrining dapat dilakukan sejak usia 20 tahun sebagai data dasar dan, bagi mereka tanpa faktor risiko, dapat diulang setiap tiga hingga lima tahun. Sementara itu, kelompok usia 35 hingga 40 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan lebih rutin, setidaknya setahun sekali, terlebih jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan diabetes atau hipertensi. Kesadaran untuk memeriksa lingkar perut, tekanan darah, gula darah, dan profil lemak sejak dini dinilai penting agar “bom waktu” sindrom metabolik dapat dicegah sebelum berkembang menjadi penyakit kronis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....