Sebelum Terlambat, Kenali Gejala Lupus sejak Awal
- 12 Mei 2026 10:29 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh – Penyakit lupus masih menjadi salah satu gangguan kesehatan yang sering terlambat dikenali masyarakat karena gejalanya beragam dan menyerupai penyakit lain. Padahal, lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang membutuhkan penanganan serius agar tidak menimbulkan komplikasi pada berbagai organ tubuh.
Hal tersebut disampaikan dr. Mahriani Sylvawani, Sp.PD-KR, FINASIM, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala sekaligus dokter yang berpraktik di RSUD dr. Zainoel Abidin dalam dialog Klinik Angkasa Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu 9 Mei 2026 bertema “Lupus Bisa Dikendalikan, Bukan Dibiarkan.”
Dalam dialog tersebut, dr. Mahriani menjelaskan lupus merupakan penyakit autoimun sistemik, yakni kondisi ketika antibodi tubuh yang seharusnya melindungi dari virus, bakteri, dan kuman justru menyerang organ tubuh sendiri.
“Lupus ini penyakit autoimun sistemik yang bisa mengenai semua organ tubuh akibat hiperaktivitas antibodi di tubuh penderita,” ujarnya.
Ia mengatakan lupus sering disebut sebagai “penyakit seribu wajah” karena gejalanya sangat beragam. Akibatnya, banyak penderita berpindah-pindah dokter sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis yang tepat.
Menurutnya, gejala awal lupus yang perlu diwaspadai antara lain nyeri sendi, mudah lelah, rambut rontok, sariawan berulang, demam tidak menentu, hingga ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah. Selain itu, kondisi mata sembap saat bangun tidur juga dapat menjadi tanda adanya gangguan ginjal akibat lupus.
Dr. Mahriani menjelaskan penyakit lupus lebih banyak menyerang perempuan dibandingkan laki-laki, terutama perempuan usia produktif. Faktor hormonal disebut menjadi salah satu pemicu dominannya kasus lupus pada perempuan.
“Perbandingan penderita lupus perempuan dan laki-laki sekitar 15 banding satu,” katanya.

Ia menambahkan deteksi dini sangat penting agar lupus tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Pemeriksaan darah dan antibodi tertentu diperlukan untuk memastikan diagnosis lupus, termasuk pemeriksaan ANA atau antinuclear antibody.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Mahriani juga mengingatkan bahwa lupus bukan penyakit menular dan bukan pula akibat hal mistis seperti yang masih dipercaya sebagian masyarakat.
“Ini bukan penyakit menular dan bukan karena guna-guna. Lupus terjadi karena sistem imun tubuh pasien sendiri yang terlalu aktif,” ujarnya.
Selain pengobatan medis, pola hidup sehat dinilai menjadi faktor penting dalam mengendalikan lupus. Penderita disarankan menjaga pola makan seimbang, menghindari stres, beristirahat cukup, serta rutin mengontrol kondisi kesehatan.
Menurut dr. Mahriani, stres menjadi salah satu pemicu utama kekambuhan lupus. Karena itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar pasien dapat menerima kondisinya dan tetap menjalani pengobatan secara teratur.
Ia menegaskan lupus memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya, tetapi penyakit tersebut dapat dikendalikan sehingga penderita tetap bisa menjalani hidup produktif.
“Target pengobatan lupus adalah remisi atau kondisi penyakit yang tenang sehingga pasien tetap dapat beraktivitas dengan baik,” katanya.
Jika tidak ditangani dengan baik, lupus dapat menyerang organ-organ vital seperti ginjal, jantung, otak, dan darah. Bahkan, pada kasus berat, penderita dapat mengalami gagal ginjal hingga harus menjalani cuci darah.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih peduli terhadap gejala-gejala yang muncul pada tubuh dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan berkepanjangan.
Dr. Mahriani juga menyampaikan perkembangan pengobatan lupus saat ini semakin maju dengan hadirnya terapi biologik untuk pasien dengan kondisi sedang hingga berat. Terapi tersebut dinilai mampu meningkatkan harapan hidup penderita lupus secara signifikan.
Melalui edukasi yang terus dilakukan, ia berharap masyarakat semakin memahami lupus sehingga penderita tidak lagi menghadapi stigma negatif dan dapat memperoleh dukungan yang dibutuhkan dalam menjalani pengobatan jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....