Suara Bising Bisa Bikin Gangguan Pendengaran Permanen

  • 26 Apr 2026 13:50 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Paparan suara bising, baik dari lingkungan kerja maupun kebiasaan sehari-hari, menjadi salah satu penyebab utama gangguan pendengaran yang sering tidak disadari masyarakat. Hal ini mengemuka dalam program Dialog Klinik Angkasa Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (25/4/2026), bersama narasumber dr. Musmuliadi, Sp.T.H.T.B.K.L - Dokter Spesialis THT RSU Putri Bidadari Aceh.

Dalam dialog tersebut, dr. Musmuliadi menjelaskan bahwa gangguan pendengaran akibat kebisingan atau noise-induced hearing loss merupakan penurunan fungsi pendengaran yang disebabkan oleh paparan suara, baik keras maupun dalam intensitas sedang namun berlangsung lama.

“Kerusakan ini terjadi pada sel rambut di dalam telinga. Jika sel tersebut rusak, terutama akibat suara keras, maka sifatnya bisa permanen dan tidak dapat diperbaiki,” ujarnya.

Ia menambahkan, paparan suara keras seperti ledakan atau mesin berat dapat menyebabkan kerusakan mendadak, bahkan hingga pecahnya gendang telinga. Sementara itu, paparan suara dengan intensitas lebih rendah, seperti penggunaan headset dalam waktu lama, menimbulkan kerusakan secara perlahan tanpa disadari.

Menurutnya, gejala awal yang sering muncul antara lain telinga berdenging (tinnitus), sulit mendengar di tempat ramai, serta kecenderungan menaikkan volume televisi atau berbicara dengan suara keras. Ironisnya, kondisi ini kerap lebih disadari oleh orang di sekitar dibandingkan penderita itu sendiri.

“Banyak pasien datang ketika kondisinya sudah parah. Padahal jika ditangani dalam 1–2 hari sejak gejala muncul, kerusakan bisa dicegah agar tidak menjadi permanen,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membatasi penggunaan perangkat audio pribadi. Standar aman yang dianjurkan adalah penggunaan maksimal 60 persen volume selama 60 menit per hari. Penggunaan berlebihan, terutama pada kalangan remaja, kini menjadi penyebab dominan gangguan pendengaran.

“Dulu pekerja industri paling berisiko. Sekarang justru remaja karena penggunaan earphone yang berlebihan,” ungkapnya.

dr.Musmuliadi, Sp.T.H.T.B.K.L - Dokter Spesialis THT RSU Putri Bidadari Aceh. dalam program Dialog Klinik Angkasa Programa 1 RRI Banda Aceh, Sabtu (25/4). Foto : RRI/LIs.

Selain itu, masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi, seperti dekat bandara atau kawasan industri, juga berisiko mengalami gangguan serupa. Dalam kondisi tersebut, penggunaan alat pelindung telinga seperti earplug sangat dianjurkan.

Terkait penanganan, dr. Musmuliadi menyebutkan bahwa pemeriksaan dini dapat dilakukan melalui tes audiometri di fasilitas kesehatan. Pemeriksaan ini mampu mengukur ambang pendengaran seseorang secara akurat.

Sebagai langkah pencegahan, ia mengimbau masyarakat untuk memberi waktu istirahat pada telinga, menghindari paparan suara berlebih, serta tidak membersihkan telinga secara berlebihan karena dapat memicu infeksi.

“Kesadaran menjadi kunci. Telinga juga butuh istirahat seperti organ lainnya. Jangan tunggu sampai tidak bisa mendengar baru memeriksakan diri,” pungkasnya.

Program ini menjadi pengingat penting bahwa gangguan pendengaran bukan sekadar masalah sepele, melainkan ancaman kesehatan yang dapat berdampak jangka panjang jika diabaikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....