Waspada Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak Sejak Dini

  • 08 Feb 2026 20:28 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh : Penyakit jantung bawaan pada anak masih kerap luput dari perhatian masyarakat, padahal berdampak besar terhadap tumbuh kembang dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Deteksi dan penanganan sejak dini menjadi kunci utama mencegah komplikasi serius hingga kematian.

Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Anak Subspesialis Kardiologi Konsultan, Prof. Dr. dr. Herlina Dimiati, Sp.A., Subsp. Kardio(K), dalam Dialog Klinik Angkasa RRI Banda Aceh dengan tema “Jantung Anak, Masa Depan Bangsa: Apa yang Perlu Kita Ketahui?” pada Sabtu 7 Februari 2026.

Prof. Herlina menjelaskan, penyakit jantung pada anak terbagi menjadi dua, yakni penyakit jantung bawaan dan penyakit jantung didapat. Pada momentum Congenital Heart Defect Awareness Week yang berlangsung 7–14 Februari 2026, fokus edukasi diarahkan pada penyakit jantung bawaan yang terbentuk sejak dalam kandungan.

“Masih banyak anggapan keliru di masyarakat, seperti bocor jantung bisa menutup sendiri dengan obat atau gizi yang baik. Itu tidak benar. Obat tidak menutup bocor, tindakan medis tetap diperlukan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, secara statistik penyakit jantung bawaan terjadi pada satu dari seribu kelahiran hidup, dan sekitar 25 persen di antaranya merupakan kasus kritis yang membutuhkan penanganan cepat. Keterlambatan diagnosis sering terjadi pada jenis jantung bawaan non-sianotik atau tidak berwarna biru, karena anak tampak sehat secara kasat mata.

Gejala yang perlu diwaspadai orang tua antara lain berat badan sulit naik, anak mudah lelah saat menyusu atau makan, serta infeksi saluran pernapasan yang berulang. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut dapat menyebabkan gagal jantung, gangguan pertumbuhan, hingga hambatan perkembangan otak. “Anak dengan jantung bawaan yang tertangani dengan baik dapat tumbuh normal, bersekolah, berolahraga, bahkan berprestasi seperti anak lainnya,” kata Prof. Herlina.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini, mulai dari pemeriksaan selama kehamilan melalui fetal echocardiography hingga skrining saturasi oksigen pada bayi baru lahir sebelum dipulangkan dari rumah sakit. Selain itu, pemenuhan gizi, imunisasi lengkap, serta keberanian orang tua menjalani tindakan medis menjadi faktor penentu keberhasilan terapi.

Prof. Herlina juga mengungkapkan, berdasarkan data registri RSUD Zainul Abidin Banda Aceh, dalam kurun 2021–2025 tercatat 147 anak dengan penyakit jantung bawaan meninggal dunia, sebagian besar akibat keterlambatan penanganan dan kondisi gizi yang buruk.

“Anak-anak ini memiliki hak yang sama untuk hidup sehat dan masa depan yang cerah. Dengan edukasi yang tepat dan penanganan optimal, mereka bisa menjadi generasi Aceh dan Indonesia yang kuat,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....