Stres Kronis dan Gaya Hidup Buruk Bisa "Mengecilkan" Jantung Anda

  • 22 Sep 2026 10:27 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh - Pernahkah Anda membayangkan bahwa rokok, obesitas, dan tekanan hidup sehari-hari bisa perlahan mengubah bentuk jantung Anda dari dalam? Sebuah studi skala besar terbaru membuktikan hal itu bukan sekadar teori, melainkan fakta yang terekam jelas dalam data hampir setengah juta orang.

Penelitian ini dipimpin oleh Mattia Corianò bersama tim dari Imperial College London, dengan penulis senior Declan P. O'Regan. Hasil riset mereka dipublikasikan di jurnal European Journal of Preventive Cardiology pada 18 September 2026, setelah melalui proses tinjauan sejak April 2026.

Tim peneliti menganalisis data lebih dari 488.000 partisipan UK Biobank, lengkap dengan pemindaian MRI jantung dan profil genetik mereka. Mereka menggunakan penanda darah bernama GlycA untuk mengukur tingkat peradangan kronis dalam tubuh setiap orang.

Hasilnya semakin tinggi kadar peradangan dalam darah, semakin kecil ukuran bilik jantung seseorang. Jantung juga terlihat memompa darah lebih sedikit setiap detaknya, sehingga tubuh terpaksa mengompensasi dengan mempercepat detak jantung.

Uniknya, bukan hanya ukuran yang berubah, tapi juga fungsinya. Dinding jantung menebal sementara kemampuan mengisi darah saat fase relaksasi justru melemah, sebuah pola yang menurut peneliti bisa jadi tanda peringatan dini sebelum gagal jantung benar-benar terjadi.

Yang membuat temuan ini lebih dalam adalah penemuan protein-protein spesifik di balik layar. Protein dari keluarga interleukin-1 dan TNF terbukti menjadi "kurir" yang menghantarkan efek buruk peradangan langsung ke struktur jantung.

Dari sisi risiko jangka panjang, kelompok dengan peradangan tertinggi menghadapi kemungkinan serangan jantung atau stroke sebesar 43 persen lebih tinggi dibanding kelompok dengan peradangan terendah. Angka ini bertahan signifikan bahkan setelah faktor kolesterol dan risiko lain diperhitungkan.

Lalu, apa pemicu utama peradangan ini di dunia nyata? Penelitian mengungkap bahwa lemak di area perut, kebiasaan merokok, gangguan kesehatan mental, dan kemiskinan menjadi kombinasi paling berbahaya yang mendorong naiknya kadar peradangan tubuh.

Menariknya lagi, tidak semua orang bereaksi sama terhadap faktor-faktor tersebut. Gen bawaan seseorang ternyata bisa memperkuat atau justru meredam dampak stresor lingkungan itu terhadap tubuh, menjelaskan mengapa dua orang dengan gaya hidup mirip bisa punya risiko jantung yang sangat berbeda.

Meski demikian, studi ini juga punya sejumlah catatan penting yang perlu diperhatikan. Mayoritas partisipan berasal dari etnis kulit putih Eropa sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama untuk populasi lain, ditambah lagi analisis mediasi protein bersifat cross-sectional sehingga belum bisa memastikan hubungan sebab-akibat secara pasti, dan pemeriksaan GlycA sendiri masih belum tersedia luas di layanan kesehatan rutin.

Terlepas dari keterbatasan tersebut, temuan ini tetap membuka peluang besar bagi dunia medis untuk deteksi dini yang lebih personal. Dengan menggabungkan pemeriksaan peradangan darah dan skor risiko genetik, dokter di masa depan berpotensi mengidentifikasi siapa saja yang paling membutuhkan intervensi pencegahan sejak dini, jauh sebelum gejala penyakit jantung muncul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....