Dari Guru Menulis, Siswa Berkarya: Gerakan Literasi KAHFIS Menyasar SMPN 1 Seunagan

  • 21 Sep 2026 11:49 WIB
  •  Banda Aceh

RRI CO.ID, Nagan Raya,— Sebuah buku tidak selalu dimulai dari halaman pertama yang ditulis oleh seorang penulis. Di sekolah, sebuah karya bisa bermula dari seorang guru yang berani belajar dan kemudian mengajak peserta didiknya untuk ikut berkarya. Semangat inilah yang dibawa dalam Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru untuk Pembelajaran Berorientasi pada Peserta Didik yang digelar di SMPN 1 Seunagan, Kabupaten Nagan Raya, Sabtu 19 September 2026.

Siti Nurhidayah, S.Pd. M.Sc yang kerap disapa Bunda Dayah selaku narasumber dari Kahfis Aceh menyampaikan materi yang sangat menginspirasi guru untuk menulis buku pada Pelatihan tersebut.

Beliau menyampaikan bahwa,

"Guru sebagai pendidik harus memiliki kompetensi menulis agar mempunyai legacy (warisan) untuk siswa dan masyarakat luas. Praktik baik dan pengalaman para guru dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja. Dengan teknik menulis yang tepat maka karya tulis guru yang sederhana dapat hadir memberikan semangat menjadi guru dan murid." Ujar Bunda Dayah.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Roadshow Literasi yang mendorong penguatan budaya literasi tidak hanya melalui aktivitas membaca, tetapi juga melalui kemampuan menghasilkan karya. Guru menjadi sasaran awal pembekalan agar memiliki pengalaman dan keterampilan yang dapat diteruskan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran.

Salah satu fokus pelatihan adalah keterampilan menulis. Guru diarahkan untuk memahami proses menghasilkan karya tulis sehingga nantinya dapat mengembangkan pembelajaran berbasis proyek yang memberi kesempatan kepada siswa untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan.

Kepala SMPN 1 Seunagan, Misnan, S.Pd., M.Si., menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap peningkatan kapasitas guru dapat memberikan dampak langsung terhadap pengalaman belajar peserta didik.

“Harapannya, orientasi guru terhadap peserta didik semakin kuat. Guru dilatih lebih dahulu agar mampu membuat karya tulis, kemudian dapat memberikan pembelajaran dan mendampingi peserta didik untuk menghasilkan karya tulis mereka sendiri.”

Menurut Misnan, proses tersebut dapat dikembangkan menjadi proyek yang menghasilkan buku karya peserta didik, termasuk melalui keterlibatan siswa dalam penulisan buku antologi. Dengan begitu, kegiatan menulis tidak berhenti sebagai tugas di ruang kelas, tetapi menjadi pengalaman yang menghasilkan karya yang dapat didokumentasikan dan dibanggakan.

Pelatihan ini juga menempatkan guru bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator yang membantu peserta didik menemukan gagasan, mengembangkan tulisan, hingga menghasilkan karya. Pengalaman guru dalam berkarya diharapkan menjadi modal untuk membangun pembelajaran yang lebih aktif dan berorientasi pada potensi siswa.

Dari guru yang berkarya, diharapkan lahir siswa yang berani berkarya. Dari tulisan-tulisan mereka, bukan tidak mungkin akan lahir buku dan cerita baru dari Nagan Raya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....