Sekolah Rakyat Terintegrasi Pidie Jaya Kembangkan Program One Day Literacy

  • 29 Agt 2026 16:25 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh — Sekolah Rakyat Terintegrasi 26 Pidie Jaya terus mendorong tumbuhnya budaya literasi di kalangan siswa melalui program One Day Literacy. Program tersebut dirancang tidak hanya untuk membiasakan siswa membaca, tetapi juga melatih kemampuan menulis, berbicara, menyimak hingga berpikir kritis.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 26 Pidie Jaya, Dewi Juliana, mengatakan program literasi menjadi salah satu program unggulan di sekolahnya. Hal itu disampaikannya dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 1 dalam program Beranda Asta Cita, Selasa 26 Agustus 2026.

Menurut Dewi, kegiatan literasi dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sepekan, yakni Rabu pagi selama 30 menit dan malam Minggu. Dalam pelaksanaannya, seluruh aktivitas siswa diarahkan pada kegiatan yang berkaitan dengan literasi.

“Bukan hanya membaca, tapi juga menulis, mendengar, berbicara, dan berpikir kritis,” kata Dewi.

Ia menjelaskan, kegiatan pada Rabu pagi dikemas secara variatif agar siswa tidak merasa bahwa aktivitas literasi hanya sebatas membaca buku. Kegiatan diawali dengan membaca bersama, kemudian dilanjutkan dengan bedah buku, pembahasan kata-kata sulit, serta menulis refleksi.

Siswa juga diminta menceritakan kembali isi buku yang telah dibaca. Menurut Dewi, metode tersebut penting untuk memastikan siswa tidak sekadar membaca, tetapi benar-benar memahami dan mampu menyampaikan kembali informasi yang diperoleh.

Sementara pada malam Minggu, kegiatan literasi dilakukan melalui aktivitas membaca dan muhadarah yang didampingi wali asuh. Guru dan wali asuh berperan mendampingi sekaligus membangun diskusi bersama siswa.

Dewi menyebut program tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap budaya membaca anak-anak yang dinilai masih perlu diperkuat, terutama di tengah tingginya penggunaan gawai.

Ia menilai buku perlu kembali diperkenalkan sebagai bagian penting dalam keseharian anak. “Literasi itu adalah fondasi semua ilmu. Melalui program ini kami ingin mengembalikan buku sebagai sahabat anak,” ujarnya.

Program yang mulai diprogramkan secara lebih terstruktur sejak akhir Februari 2026 itu diharapkan dapat membentuk siswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan literasi dan karakter yang baik.

Dewi mengatakan seluruh siswa menjadi target utama program tersebut dan diwajibkan terlibat dalam setiap kegiatan. Sementara guru dan wali asuh berfungsi sebagai pendamping serta mitra diskusi bagi siswa.

Dukungan terhadap program literasi juga datang dari lingkungan sekolah melalui keberadaan Perpustakaan Lentera Ilmu yang menjadi salah satu sarana pendukung kegiatan membaca dan pengembangan literasi siswa.

Untuk membuat kegiatan lebih terarah, sekolah juga menetapkan tema bacaan setiap bulan. Tema tersebut menjadi panduan bagi siswa dalam memilih dan mendalami bahan bacaan. Salah satu tema yang diangkat berkaitan dengan pahlawan dan lingkungan.

Dewi berharap, Sekolah Rakyat Terintegrasi 26 Pidie Jaya berharap kegiatan literasi tidak berhenti sebagai rutinitas sekolah. Program tersebut diharapkan dapat membentuk kebiasaan membaca sekaligus melatih siswa untuk memahami, mengolah, dan menyampaikan kembali informasi yang mereka peroleh.

Bagi sekolah, literasi bukan sekadar soal seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi bagaimana bacaan mampu membentuk cara berpikir dan karakter siswa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....