Teknologi Memudahkan Akses, Literasi Hadis Tetap Diperlukan
- 30 Agt 2026 05:18 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh –Kemudahan mengakses dan membagikan informasi keagamaan melalui media sosial menjadi tantangan baru dalam memahami hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam program siaran Kajian Islami Programa 1 RRI Banda Aceh, Jumat (28/8/2026), Dosen Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Airlangga sekaligus Dewan Pakar Majelis Al-Khubara Ikat Aceh, Dr. Nur Baety Sofyan, Lc., MA., mengingatkan masyarakat agar tidak langsung membagikan hadis yang ditemukan di media sosial sebelum memastikan kebenaran sumbernya.
Nur Baety mengatakan, perkembangan teknologi digital memiliki dua sisi. Di satu sisi, masyarakat semakin mudah mencari hadis tentang berbagai persoalan kehidupan tanpa harus melakukan perjalanan panjang sebagaimana tradisi ulama terdahulu. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut berisiko membuat hadis yang lemah bahkan palsu menyebar luas. Menurutnya, niat menyebarkan kebaikan tidak cukup jika informasi yang dibagikan belum terverifikasi, karena hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an.
Ia menjelaskan, hadis palsu atau maudu kerap lebih cepat viral karena menggunakan bahasa sensasional, iming-iming pahala besar, ancaman tertentu, serta mendorong penerima untuk segera membagikannya. Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan “saring sebelum sharing” dengan memeriksa sumber hadis, sanad, dan matan atau isi hadis. Nur Baety juga mengingatkan agar masyarakat membedakan hadis daif atau lemah dengan hadis maudu. Hadis daif masih merupakan hadis dengan kelemahan tertentu dan dalam penggunaannya terdapat perbedaan pendapat ulama, sedangkan hadis maudu merupakan perkataan yang dibuat-buat dan dinisbahkan secara tidak benar kepada Rasulullah SAW.
Dalam dialog tersebut, Nur Baety juga menekankan pentingnya etika digital bagi masyarakat maupun konten kreator dakwah. Teknologi, menurutnya, merupakan alat untuk memperoleh informasi, bukan pengganti keahlian dalam ilmu hadis. Masyarakat dianjurkan memilih rujukan yang memiliki reputasi akademik, mencantumkan sumber, serta tetap mengikuti kajian dan bimbingan keilmuan. Ia juga mengajak ulama, akademisi, dan masyarakat bersinergi memperkuat literasi hadis agar pemahaman keagamaan di ruang digital tidak berhenti pada informasi yang cepat, tetapi juga benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Nur Baety menegaskan, kehati-hatian dalam menyampaikan hadis merupakan bagian dari amanah ilmu. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya menjadi generasi yang cepat mengakses informasi, tetapi juga benar dalam memahami dan mengamalkannya. “Jangan hanya cepat membagikan dalil, tetapi pastikan dalil itu benar,” menjadi salah satu pesan kunci dalam dialog tersebut. Masyarakat juga diingatkan untuk memperbaiki informasi yang keliru dengan cara santun, menjaga ukhuwah, serta tetap mengedepankan prinsip tabayun sebelum menyebarkan setiap informasi keagamaan di media sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....