AI Membantu Manusia, Jangan Biarkan Menggantikan Kemampuan Berpikir
- 18 Agt 2026 08:02 WIB
- Banda Aceh
RRI. CO. ID, Banda Aceh – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari informasi, membantu pekerjaan, hingga menjawab berbagai pertanyaan, teknologi ini menawarkan kemudahan dan kecepatan. Namun, penggunaan AI yang berlebihan dinilai dapat memengaruhi proses perkembangan kognitif manusia jika membuat seseorang berhenti melatih kemampuan berpikirnya sendiri.
Hal tersebut disampaikan Psikolog Rumah Sakit Hermina Aceh, Silvia Eva Juarni, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam siaran Dialog Asokaya Programa 4 RRI Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), dengan tema “Kawan atau Lawan? Mengupas Dampak AI bagi Perkembangan Kognitif Manusia.”
Silvia menjelaskan, kemampuan kognitif pada dasarnya merupakan kemampuan manusia untuk berpikir, termasuk mengingat, menilai, memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Perkembangan kemampuan tersebut berlangsung secara bertahap sejak manusia lahir dan perlu terus mendapatkan stimulasi sesuai dengan usia.
Menurutnya, teknologi AI pada dasarnya bukan sesuatu yang negatif. AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat apabila digunakan secara tepat. Persoalan muncul ketika manusia menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi tersebut.
“Pemakaian yang kurang tepat yang membuat AI itu menjadi negatif. Sebenarnya bukan AI-nya yang negatif, tetapi kita yang tidak bisa mengontrol pemakaiannya,” ujar Silvia dalam dialog tersebut.
Ia mencontohkan penggunaan AI dalam pekerjaan. Menurut Silvia, seseorang sebaiknya terlebih dahulu menuangkan ide dan menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Setelah itu, AI dapat digunakan sebagai second opinion untuk memeriksa atau memberikan masukan terhadap hasil yang telah dibuat.
Dengan pola tersebut, AI tetap berfungsi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.
Silvia mengingatkan, ketergantungan terhadap AI dapat menjadi persoalan ketika seseorang terbiasa menggunakan teknologi tersebut untuk menyelesaikan semua persoalan tanpa berusaha mencari solusi sendiri.
Terutama pada anak dan remaja, proses pemecahan masalah perlu terus dilatih. Silvia menjelaskan bahwa pada usia sekitar 12 tahun ke atas, anak mulai memasuki tahap perkembangan kognitif yang memungkinkan mereka berpikir lebih logis, abstrak dan kompleks.
Jika pada tahap tersebut seluruh tugas sekolah dan persoalan diserahkan kepada AI, kemampuan berpikir kritis berpotensi tidak mendapatkan stimulasi yang cukup.
“Kalau tidak pernah digunakan kemampuan untuk memecahkan masalah, otomatis dia akan kesulitan nanti di tahap selanjutnya,” kata Silvia.
Ia menambahkan, kemampuan kognitif membutuhkan stimulasi agar berkembang. Karena itu, proses belajar tidak seharusnya selalu dibuat mudah dengan menghilangkan tantangan, termasuk pengalaman melakukan kesalahan.
Menurut Silvia, proses trial and error atau mencoba, salah, kemudian mencoba kembali merupakan bagian penting dalam perkembangan anak. Dari proses tersebut, anak belajar memecahkan masalah, meningkatkan ketelitian dan membangun daya tahan ketika menghadapi kesulitan.
Dalam dialog tersebut, Silvia juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam perkembangan kognitif anak. Menurut dia, pendidikan kognitif tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru.
Orang tua dapat memberikan stimulasi sederhana di rumah, termasuk mengajak anak mengulang pelajaran, berdiskusi, menjawab pertanyaan mereka, serta memberi kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalah sendiri.
Ia menyarankan orang tua menyisihkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit untuk mendampingi anak mengulang pelajaran atau melakukan aktivitas yang merangsang kemampuan berpikir.

Silvia juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung mengambil alih ketika anak menghadapi kesulitan. Anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba, mengalami kesalahan dan mencari jalan keluar.
Menurutnya, rasa ingin tahu anak justru merupakan bagian penting dari proses perkembangan kognitif. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering muncul pada anak merupakan bentuk eksplorasi terhadap lingkungan.
Karena itu, orang tua diharapkan tidak selalu mematikan rasa ingin tahu anak dengan meminta mereka berhenti bertanya. Sebaliknya, kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi sekaligus memperkuat hubungan antara orang tua dan anak.
Meski mengingatkan risiko ketergantungan, Silvia menegaskan bahwa AI memiliki banyak manfaat jika digunakan sesuai kebutuhan.
AI dapat membantu menghemat waktu, memberikan ide, membantu menganalisis informasi, meningkatkan efisiensi pekerjaan dan menjadi bahan pembanding terhadap pekerjaan yang sudah dilakukan manusia.
Untuk anak, misalnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai media visual untuk menjelaskan hal-hal yang sulit diterangkan secara langsung oleh orang tua.
Namun, prinsip utamanya adalah penggunaan AI harus tetap berada dalam kendali manusia.
Silvia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan AI sebagai pengganti hubungan sosial dan tempat bergantung secara emosional. Menurutnya, AI merupakan sistem yang dirancang untuk memberikan respons, bukan manusia yang benar-benar memiliki perasaan dan empati.
Di akhir dialog, Silvia mengajak masyarakat memandang AI sebagai kawan yang membantu manusia, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia.
Ia menyarankan agar manusia mengeluarkan terlebih dahulu ide dan kemampuan berpikir yang dimiliki sebelum meminta bantuan AI.
Dengan demikian, AI dapat ditempatkan sebagai kawan yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menjadi lawan yang secara perlahan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir, memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....