Rumoh Bakat Aceh Mendukung Lokakarya Bertutur Dorong Generasi Muda Kenali Bakat
- 10 Agt 2026 10:58 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, Pidie - Kata-kata tidak hanya menjadi alat untuk berkomunikasi, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan pengetahuan, menyampaikan pesan, hingga menjaga cerita dan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semangat inilah yang terasa dalam Lokakarya Bertutur yang dilaksanakan Rumah Baca Nuri Pidie yang diketuai oleh Nurul Fajri, S.Pd. Rumah Baca Nuri merupakan penerima Banpem Literasi dan Sastra tahun 2026 dari Balai Bahasa Aceh, Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026 tersebut menghadirkan pembicara Siti Nurhidayah, S.Pd., M.Sc., yang kerap disapa Bunda Dayah. Beliau merupakan Founder Rumoh Bakat Aceh. Dalam lokakarya ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya kemampuan bertutur, tetapi juga diajak mempelajari berbagai teknik dasar mendongeng dan langsung mempraktikkannya sesuai bakatnya.
Bunda Dayah membagikan berbagai tips mendongeng agar cerita dapat disampaikan secara lebih hidup dan menarik. Peserta diperkenalkan pada berbagai aspek penting dalam membawakan sebuah cerita, mulai dari karakter dan suara tokoh, penggunaan gesture, mimik atau ekspresi wajah, pilihan bahasa, hingga pemilihan outfit yang sesuai dengan karakter dan cerita yang dibawakan.
Bunda Dayah mengungkapkan bahwa Mendongeng bukan hanya tentang menyampaikan cerita, tetapi bagaimana seorang pendongeng mampu menghidupkan tokoh, suasana, dan pesan yang ada di dalam cerita sehingga pendengar dapat ikut merasakan dan memahami cerita tersebut.
Setelah mendapatkan pemaparan materi, peserta kemudian diajak untuk mempraktikkan secara langsung teknik mendongeng yang telah dipelajari. Peserta dibagi menjadi empat kelompok, dan masing-masing kelompok mendapatkan kesempatan untuk menyiapkan serta menampilkan praktik dengan tema cerita daerah Aceh di hadapan peserta lainnya.
Antusiasme peserta semakin terlihat ketika masing-masing kelompok menunjukkan kreativitasnya. Pada akhir sesi praktik, kelompok terbaik diberi apresiasi karena dinilai mampu memenuhi keseluruhan aspek yang diberikan dalam praktik mendongeng. Literasi tidak hanya dibaca, tetapi dituturkan. Hadirnya Lokakarya Bertutur juga mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Muhammad Irsan, S.S., M.Hum., Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, menyampaikan bahwa peningkatan literasi dapat membantu menumbuhkan pola pikir siswa, siswi, maupun masyarakat. Menurutnya, kegiatan seperti Lokakarya Bertutur dapat menjadi salah satu langkah awal dalam meningkatkan budaya literasi sekaligus mengenalkan budaya Aceh melalui cerita.
“Meningkatkan literasi dapat menumbuhkan pola pikir siswa dan siswi maupun masyarakat. Lokakarya Bertutur ini dapat menjadi landasan awal untuk meningkatkan literasi dan budaya Aceh melalui buku cerita dwibahasa," kata Irsan.
Sementara itu, Nurhanisah, S.I.P., M.M., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pidie, menyampaikan bahwa kemampuan literasi perlu terus dikembangkan dalam berbagai bentuk. Menurutnya, masyarakat Pidie memiliki potensi literasi keuangan yang baik, salah satunya terlihat dari banyaknya masyarakat Pidie yang bergerak dalam dunia perdagangan. Namun, kemampuan tersebut juga perlu dilengkapi dengan wawasan dan keterampilan komunikasi yang baik. Melalui kegiatan seperti Lokakarya Bertutur, siswa dan siswi diharapkan tidak hanya memiliki wawasan mengenai literasi, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berbahasa, bertutur, dan public speaking.
Dari perspektif pengembangan potensi, Koordinator Rumoh Bakat Aceh, Difa Alifia, S.Pi., mengatakan bahwa Bertutur jika dikaitkan dengan Talents Mapping merupakan pengembangan bakat Communication dan Developer. Bakat ini dapat mendukung kemampuan generasi muda dalam menyampaikan ide, cerita, maupun pengetahuan kepada orang lain. Bakat ini tidak hanya melatih keberanian seseorang untuk berbicara di depan umum, tetapi juga dapat menjadi aktivitas yang mendorong kemampuan kognitif, kreativitas, pemahaman bahasa, serta kemampuan menyusun dan menyampaikan gagasan secara terstruktur.
“Bakat communication dan developer dapat berjalan bersama dalam kegiatan seperti ini. Peserta belajar bagaimana menyampaikan cerita sesuai dengan kemampuan dan karakter mereka, sekaligus belajar memberikan dan menerima masukan agar kemampuan mereka terus berkembang," kata Difa.
Bagi generasi muda Aceh, kemampuan bertutur bahkan memiliki makna yang lebih luas. Cerita tentang adat, budaya, lingkungan, sejarah, dan kehidupan masyarakat dapat terus hidup ketika ada generasi yang mau mempelajari, memahami, dan menceritakannya kembali.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak anak muda yang berani menggunakan suaranya untuk belajar, berbagi pengetahuan, menyampaikan gagasan, sekaligus menjaga cerita dan budaya Aceh agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Karena, ketika sebuah cerita terus dituturkan, di sanalah sebuah budaya memiliki kesempatan untuk terus diwariskan dan Lestari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....